|
JUM’AT BERDARAH; PERISTIWA KONSPIRASI SAUDI ARABIA[1] |
|
Dunia Islam
|
|
Jumat, 10 Juni 2011 |
|
Oleh: Abu Qurba 
Pada tahun 1987 terjadi beberapa peristiwa yang sangat memukul perasaan Imam Khomeini Ra, rakyat Iran dan kaum muslimin dunia, salah satunya adalah musibah besar yang menimpa jemaah haji Iran dan jamaah haji dari beberapa Negara lainnya pada musim haji tahun itu. Para jemaah haji yang syahid akibat perlakukan kejam pemerintah Saudi menjadi perhatian Imam Khomeini Ra secara serius. Hal ini merupakan refleksi kecintaan seorang pemimpin kepada rakyatnya. Imam Khomeini sangat yakin—berdasarkan ratusan ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang tak terhitung dari Ahlul Bait yang suci—bahwa politik merupakan bagian dari agama dan bahwa proses memisahkan politik dari agama yang populer selama dekade terakhir dari abad ini, pada hakikatnya merupakan propaganda kaum kolonialis. Hasil negatif akibat dari pemisahan ini tampak pada dunia Islam dan di antara para pengikut seluruh agama Ilahi. Imam Khomeini yakin bahwa Islam merupakan agama untuk membimbing manusia dalam seluruh tahapan dan dimensi kehidupan individual dan sosial. Dan karena hubungan sosial dan politik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, maka Imam Khomeini memandang bahwa Islam yang memperhatikan aspek ibadah dan akhlak individual semata, dan mencegah kaum Muslim dari menentukan masa depan dan masalah-masalah sosial dan politik adalah Islam yang menyimpang, dan menurut ungkapan Imam "Islam Amerika". Sebagaimana ia memulai kebangkitannya atas dasar pemikiran penyatuan agama dan politik, dan beliau meneruskannya atas dasar ini. |
|
Read more...
|
|
|
Sahabat Nabi Saw Dalam Kacamata Al Qur’an dan Sejarah |
|
Sejarah
|
|
Selasa, 31 Mei 2011 |
|
Oleh : Soel_noer 
Mukaddimah Tak syak lagi kalau para sahabat Nabi saw memiliki posisi dan kedudukan khusus. Mereka mendengar langsung wahyu ilahi dari mulut mulia Nabi saw, menyaksikan dengan mata kepala mukjizat-mukjizat Beliau saw, mereka senantiasa memperoleh wejangan-wejangan yang mendidik serta menyimak langsung praktek dan figur agung baginda Nabi saw. Dengan alasan inilah ditengah-tengah mereka muncul pribadi-pribadi serta figur handal yang mendapat didikan langsung tersebut yang mana dunia Islam sangat bangga dengan kehadiran mereka, namun hal yang penting dan banyak dipertanyakan serta dibincangkan bahwa apakah seluruh sahabat –tanpa terkecuali– itu sejatinya adalah orang-orang mukmin, saleh, benar, adil ataukah diantara mereka terdapat pribadi-pribadi yang tidak saleh? Jawaban atas pertanyaan ini akan kita coba analisis dalam artikel sederhana ini.
Istilah Sahabat Sahabat berasal dari kata shahbah yang artinya pertemanan. Shahib yakni teman. Raghib mengatakan: menurut tradisi kata shahib itu digunakan untuk seseorang yang memiliki hubungan sekian banyak. (Yaa Shahibayis sijnu a arbabun mutafarriquna khairun amillahul wahidul qahhar). (Mattakhadza shahibatan walaa waladan) maksud dari shahibatan adalah istri. (Maa dhalla shahibukum wamaa ghawa). Maksud dari shahib adalah Rasulullah saw. (Laa yastathi’una nashra anfusihim walaa hum minnaa yushhabun); Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka mendapat pertolongan dari Kami. |
|
Read more...
|
|
|
Risalah Amaliyah Rahbar Hf, Pelajaran 6 |
|
Risalah Amaliyah Rahbar Hf.
|
|
Minggu, 08 Mei 2011 |
|
Diasuh Oleh: Abu Qurba 
TAKHALLI (BUANG AIR)
Pokok-pokok Bahasan: · Hukum-hukum Takhalli · Istibra’ dan Istinja’
Penjelasan: 1. Hukum-hukum Takhalli (Buang Air Kecil dan Buang Air Besar) a. Memperhatikan Arah Kiblat Seseorang ketika tengah melakukan takhalli, tidak dibolehkan menghadap atau membelakangi kiblat. b. Penutup Seseorang ketika tengah melakukan takhalli, wajib menutupi auratnya dari pandangan orang lain selain pasangannya, baik dari pandangan laki-laki, wanita, muhrim ataupun non muhrim, bahkan juga dari pandangan anak-anak yang belum baligh yang telah memiliki kemampuan untuk membedakan (mumayyiz). Akan tetapi antara suami dengan istri dan sebaliknya, tidak ada kewajiban untuk saling menutup auratnya masing-masing. |
|
Read more...
|
|
|
Risalah Amaliyah Rahbar Hf, Pelajaran 5 |
|
Risalah Amaliyah Rahbar Hf.
|
|
Selasa, 03 Mei 2011 |
|
Diasuh oleh: Abu Qurba 
THAHARAH (KESUCIAN)
Agama Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kesucian (thaharah) dan kebersihan. Sebagian dari amalan-amalan dan kewajiban-kewajiban syar'i tidak dianggap sah kecuali jika dilakukan dengan bersuci (thaharah). Dan menurut agama Islam, sebagian dari sesuatu adalah tidak suci sehingga senantiasa atau dalam kondisi-kondisi tertentu harus dihindari. Di dalam fikih agama Islam, selain terdapat kebersihan dan kesucian yang senantiasa merupakan hal yang terpuji, terdapat pula jenis pensucian yang khas (yaitu wudhu dan mandi) yang disebut pula dengan thaharah, dimana kadangkala memiliki hukum wajib dan kadangkala mustahab. Hukum-hukum thaharah, segala sesuatu yang mensucikan (muthahirat), tata cara pensucian tubuh, pakaian dan benda-benda lainnya, demikian juga segala sesuatu yang najis dan tidak suci, dan segala hal yang berkaitan dengan persoalan ini, akan dijelaskan dalam bab yang bernama thaharah . |
|
Read more...
|
|
|
Qur'an
|
|
Sabtu, 30 April 2011 |
|
Oleh : Abu Qurba 
"Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh".
Tema yang kami pilih dalam pembahasan tafsir tematik pada bagian kedua ini adalah tauhid dan syirik. Tema ini termasuk masalah penting yang banyak disinggung dan dibicarakan oleh ayat-ayat al-Qur’an di dalam berbagai suratnya. Diantara ayat yang menjelaskan tema tersebut adalah ayat 31 dalam surat al-Haj. Ayat yang mulia itu berbunyi: "Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh". Tema perumpaman di atas, yaitu tauhid dan syirik merupakan persoalan yang mendapat perhatian semua agama. Keduanya itu diserupakan dengan langit dan jatuh darinya. Perhatikanlah penjelasan yang akan kami sajikan berikut ini. Penjelasan Allah Swt berfirman: "Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit". Di dalam ayat ini tauhid diserupakan dengan langit dan syirik diserupakan dengan jatuh dari langit yang memiliki matahari, bulan dan bintang yang merupakan sumber cahaya, sinar dan keberkahan. Di samping itu bahwa langit itu sendiri memiliki keindahan dan keagungan tertentu. |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Next > End >>
|
| Results 1 - 15 of 124 |