Cakrawala, 23/4/2006
Epistemologi Mazhab Rasionalis
A. Kamil
الهى خوشا بحال كسانى كه لذات جسمانىشان عقلانى شد
Tuhanku, , Alangkah bahagiahnya mereka yang telah terlezatkan raganya oleh akalnya .[1]
|
T |
erus terang, dalam membahas masalah epistemologi madzhab Rasionalis ini, aib utama yang dapat Anda jumpai dalam makalah ini adalah tidak bersandar kepada literature-literature original yang dapat dijadikan sebagai rujukan utama. Meskipun dengan tetap merujuk kepada para Ahli Nazar (pemilik pendapat), toh hanya dapat mengantarkan kepada kilasan dan lintasan pemikiran puak-puak Rasionalis. Betapa tidak, tema pembahasan kali adalah pure filsafat Barat, yang meneropong tokoh-tokohnya plus karya-karya mereka, misalnya, Descartes dengan karya-karyanya seperti, Discours de la méthode (Discourse on Method) atau "Essais philosophiques", "Meditationes de Prima Philosophia" (Meditations on First Philosophy), "Principia Philosophiae" (The Principles of Philosophy). Atau orang semisal Immanuel Kant dengan karyanya, diantaranya "Critique of Pure Reason" atau "Critique of Practical Reason", tidak tersedia, TINA, terpaksa dengan segala keterbatasan yang ada, bersandar kepada literatur-literatur terjemahan atau karya-karya lokal yang ada. Dalam pembahasan hermeunitika , disinggung bahwa campur tangan "subjektif" dan distansiasi penerjemah atau pemerhati filsafat Barat tidak dapat dihindari dalam mengalih-bahasakan atau mengapresiasi sebuah karya dan kerja ilmiah seorang pemikir, filsuf dan kritikus. Alih-alih membiarkan literatur-literatur yang ada itu nganggur, kami tetap menjamahnya sebagai sandaran alternatif. Oleh karena itu, wajar kiranya, telisik analisis – kalau memang dapat disebut analisis – makalah sederhana ini kurang tajam dan hanya dapat dianggap sebagai pemenuhan intellectual exercise sahaja.
Ala kulli hal, dalam menapaki proses "mengerangka-diri" dengan ilmu dan amal, meniscayakan adanya sharing, transformasi, proses memberi dan menerima, perbaikan dan penyempurnaan. Sebagai seorang yang mencoba menjejakkan tapak kaki di jalan "takamuli" ini atau meminjam istilah Âkhund Mulla Sadra, "taraqqi", alih-alih menyebutnya sebagai proses dialektika, lebih tepat kita menyebutnya sebagai proses penyempurnaan. Dan kita sebagai manusia – mengikut fitrah – sangat berhajat kepada proses ini. Menyitir Capra, dengan teori Web of Life-nya, yang menyatakan bahwa hidup itu ibarat jaringan. Perspaduan, pertautan, interaksi, dialog, sharing, transformasi, adalah bagian-bagian yang membentuk jaringan hidup sehingga bertalian secara berkelindan satu sama lain. Semoga Pemilik Segala Kesempurnaan, menjadikan kesempurnaan mengkristal dan menjelma dalam diri kita. Amin.
Setelah membahas selayang-pandang raisons d'ętre epistemology secara umum, kini pembahasan kita lebih mengurucut kepada pembahasan epistemology yang diusung oleh kaum Rasionalis. Pembahasan hangat dan panjang antara kaum Rasionalis vis-ŕ-vis kaum Empirisis adalah terletak pada paradigma dan parameter apa yang digunakan untuk mencerap dan menguak realitas. Atau lebih jelasnya, pendekatan mana yang lebih unggul. Apakah deduksi yang menjadi kendaraan kaum Rasionalis ataukah logika induksi yang lebih unggul dan lebih dekat untuk menguak realitas. Menurut logikawan, metode induksi (pengalaman) bukanlah tandingan atas metode deduktif. Lantaran pengalaman itu sendiri mengandung deduksi, ia juga dapat mejadi salah satu premis dalam deduksi lain. Para logikawan membagi proposisi-proposisi swabukti mejadi dua; proposisi swabukti primer dan sekunder. Proposisi-proposi "empiris" atau proposisi yang didapatkan dari pengalaman masuk dalam bagian proposisi swabukti sekunder.
Dalam kesempatan kali ini – atas pertimbangan ruang dan waktu – sebelum membahas Epistemologi Kaum Rasionalis secara detail, ada baiknya kita mengulas dalil-dalil kaum Rasionalis, cabang-cabang madzhab Rasionalisme, ragam definisi ihwal akal, beberapa faedah akal, kemudian membahas Epistemologi menurut tokoh-tokoh kaum Rasionalis, kemudian sekiranya ada yang perlu dikritis, akan dialokasikan pada akhir dari sub-pembahasan epistemologi kaum Rasionalis ini. Insya Allah.
Superioritas Akal
Rasionalisme (Latin ratio, "reason") muncul dalam beberapa bentuk nyaris pada setiap tingkatan filsafat, teologi Barat, namun umumnya Rasionalisme ini diidentifikasi dengan tradisi yang berakar dari abad 17 oleh filsuf dan cendekia Francis, René Descartes dan pendukung aliran ini di antaranya, Kant, Spinoza, Leibniz. Descartes yang dikenal sebagai penyandang copy-right postulat "Cogito Ergo Sum" ini menggagas pemberdayaan nalar, sehingga dengan piranti lunak ini, tirai kebenaran universal dan proposisi-proposisi swabukti pertama dapat disingkap. Dengan memberdayakan nalar, muatan filsafat dan ilmu pengetahuan secara deduktif dapat dibongkar. Descartes beranggapan bahwa kebenaran-kebenaran swabukti ini merupakan fitri, tidak bersumber dari indra dan pengalaman.
Kendati kemudian, model pendekatan ini ditentang oleh tradisi kaum empiris, seperti John Locke yang meyakini bahwa seluruh gagasan-gagasan berasal dari persepsi dan indra.
Soft-ware akal (fitrawi) sebagaimana yang diklaim oleh madzhab Rasionalisme sebagai nara-sumber ide-ide adalah superior atas nara-sumber lainnya seperti indra, persepsi dan pengalaman. Indra-persepsi manusia, berdasarkan madzhab ini, merupakan nara-sumber pemahaman, konsepsi dan gagasan sederhana. Namun, indra-persepsi ini bukan melulu nara-sumber. Akan tetapi, ada juga nara-sumber fitrawi yang melahirkan sejumlah konsepsi pada benak manusia. Descartes menyebut kualitas-kualitas yang tidak langsung dicerap oleh pengindaraan dengan nama "kualitas-kualitas primer". Lawannya adalah "kualitas-kualitas sekunder" yang langsung dicerap oleh penginderaan seperti bau, warna dan rasa. Dengan begitu, Descartes meyakini satu sisi dari keunggulan akal.[2]
Bagaimanapun, dalil-dalil yang digunakan oleh kaum Rasionalis dalam berdialektika dengan kaum Empiris adalah mereka tidak menemukan adekuasi pengalaman untuk mengantarkan kita memasuki gerbang realitas. Galibnya, dalil-dalil yang mereka kemukakan di antara lain, bahwa konklusi epistemology kaum Empiris hanya bercorak paruh-realitas, bukan seluruh realitas, misalnya, keniscayaan (daruriyat) yang tidak dapat diselami oleh pengalaman dan indra-persepsi. Lainnya ialah apa yang kita kuak melalui pengalaman adalah bersifat partikular, sementara berpikir adalah universal journey. Dan yang ketiga adalah pelbagai perkara-perkara konsepsi (tasawwurat) seperti konsepsi matematis, estetika, etika tidak didapat diselesaikan oleh metode empiris. Apa yang mewajibkan kaum rasionalis untuk mengadopsi teori ini untuk menjelaskan konsepsi manusia adalah berangkat dari masalah ini. Mereka tidak menemukan sebuah alasan untuk memunculkan sejumlah gagasan dan konsepsi dari indra persepsi, karena gagasan dan konsepsi merupakan sebuah gagasan nir-kendriya (insensible ideas).[3]
Di samping itu, juga karena "kegerahan" Descartes terhadap kaum Skeptis yang menolak adanya realitas dunia luar. Seperti yang disebutkan dalam "Discourse on Methods", Descartes mengatakan bahwa postulat "Aku berfikir, karena itu Aku ada" adalah sedemikian kukuh dan niscaya.. sehingga kaum Skeptis tidak lagi dapat menggoyahkannya. Postulat "Aku berpikir atau Aku ragu..yakni apabila seorang meragukan segala sesuatu, ia tetap tidak akan pernah meragukan keberadaan dirinya sendiri. Mengingat keraguan tidak bermakna tanpa peragu, maka keberadaan manusia peragu dan pemikir adalah sesuatu yang tidak bisa diragukan. Kebenaran tentang aku yang meragukan ini bagi Descartes merupakan kepastian karena aku mengerti hal itu dengan ‘jelas dan khas’ (clear and distinc). Metode sangsi ini yang kemudian menjadi starting- point filsafat Descartes.
Piranti Akal
Well, sebelum merangsek lebih jauh, ada baiknya kita dedah lebih jeluk piranti akal yang dimaksudkan oleh madzhab Rasionalisme falsafah. Betapa pun, Rasionalisme dalam ranah filsafat terbagi lagi menjadi dua kelompok. Seperti Descartes dan Plato yang tergolong ke dalam Rasionalisme Realistis. Sementara Kant adalah pendukung Rasionalisme Idealistik.[5] Aristoteles yang muncul ditengah-tengah mensintesakan antara Rasionalis dan Empiris.
Akal dalam bahasa inggris kerap disebut sebagai reason. Perbuatan atau sikap yang masuk akal – kerennya – diistilahkan dengan reasonable. Dalam kosmos filsafat, reason adalah philosophy intellect as basic for knowledge: the ability to think logically regarded as a basis for knowledge, as distinct from experience or emotions.[6] Dalam bahasa Latin, akal sinonim dengan ratio sebagai akal penalaran dan bercorak particular. Intellectus berarti hikmat dan bercorak universal, termasuk pengetahuan ihwal realitas primordial (azali) dan Tuhan. Descartes lebih menjeluki akal partikular (ratio) ketimbang akal universal (intellectus). Dan dia memberikan makna baru atas akal particular ini.[7]
Akal secara literal bermakna imsak, dabt, man'e (ketiganya bermakna menahan); ketika diatributkan kepada manusia dapat berarti seseorang yang menahan hawa nafsunya.. Orang yang dapat menahan lisannya , lisan ini disebut lisan yang terjaga. 'Aql juga dapat bermakna tadabbur, husn fahm, idrak dan inzijar. Demikian juga secara leksikal, akal bermakna bahwa ilmu yang didapatkan adalah melalui piranti lunak ini, kekuatan pencerap pemilik akal. Atau dengan makna lain, perbuatan yang dilakukan oleh kekuatan nafs, yaitu mencerap. Demikian juga, berarti perbuatan yang menjadi preambule pekerjaan baik dan menjauhi pekerjaan buruk.[8] Terminologi akal di atas adalah terminologi akal secara literal dan leksikal. Namun, dalam istilah teknis, baik dalam bidang falsafah, gnostik atau bidang teologi atau bahkan sosiologi, istilah akal didefinisikan secara berbeda. Ada aql garizi (differentia antara manusia dan hewan, wahana untuk meraih ilmu-ilmu konseptual), aql nazari (akal yang melakukan kegiatan inferensi, penalaran, eksplanasi dan pendefinisian), aql amali (kekuatan nafs yang dapat mencerap realitas dan segala nilai-nilai etika yang harus dilakukan), ketiga istilah teknis ini akrab digunakan oleh para hukamah (filsuf). Terminologi aql dalam ranah teologi, ada akal yang bermakna proposisi niscaya yang diterima oleh masyarakat atau akal adalah proposisi niscaya yang membentuk mukaddimah burhan (argument) baik swabukti atau konseptual, aqal jauhari (entitas mujarrad secara esensial dan aktual), aqal hadaf soz (akal yang yang mendeterminasi tujuan akhir hidup). Para sosiolog seperti Max Weber berpandangan, dalam menjelaskan sistem kapitalisme, aqlaniyat abzâr (instrument yang tidak memandang nilai baik dan buruk) sebagai antonim terhadap aklniyat zati.[9]
Dalam buku Farhang-e Falsafah yang disusun oleh Dr. Jamil Saliba, menjelaskan secara elaboratif beberapa definisi ihwal akal. Kurang-lebih ada tiga belas definisi tentang akal yang disebutkan dalam kamus filsafat ini. Di sini kami hanya akan menukil arti akal yang didefinisikan oleh madzhab Rasionalis yang dapat kita lihat dari apa yang didefiniskan oleh Kant. Bagi Kant, akal terbagi menjadi dua, pure reason dan practical reason.
Pure reason adalah pencerapan ilmu berdasarkan kepada apa yang ada sebelumnya (apriori) dan practical reason adalah pemberdayaan pure reason bersandarkan kepada aturan-aturan etika.[10] Rasionalisme dalam buku yang sama disebutkan sebagai keyakinan yang memandang bahwa segala yang maujud dapat dikembalikan kepada dasar-dasar rasio.
Aql dalam bahasa irfan juga memiliki makna yang tipikal, akal dalam kalimat Lahiji, aql dan ruh yang merupakan jiwa adalah satu hakikat dengan qalb, nafs. Akal dalam pandangan Khawaja Abdullahi Ansari sebagai belenggu hati, hati terbelenggu dari selain yang dicintai dan segala perhatian yang tidak layak.[11]
Beberapa Keistemewaan Lain Akal
Sebagaimana yang telah diisyaratkan di atas bahwa epistemology madzhab Rasionalis bersandarkan kepada pendekatan deduksi dalam usahanya menguak realitas. Pendekatan deduksi melahirkan kepastian manakala ia sesuai dengan syarat-syarat logika dan bentuk yang benar. Kekuatan akal yang dominan dalam metode deduksi ini memiliki beberapa keistemewaan – sebagai komplementer dari dalil-dalil Descartes dan kaum Rasionalis di atas - menurut filsuf Islam dan Barat. Salah satu keistimewaan kekuatan akal adalah dapat menyelami dari bentuk eksoteris hingga esoteris sesuatu benda (atau menurut Kant, penetrasi dari phenomena merembes hingga noumena). Kemampuan yang lain dari kekuatan akal adalah dapat merumuskan dan mensintesakan ma'lumat dalam dirinya. Dan akal manusia dapat melakukan tajrid (abstraksi). Dapat membuat pengenalan-pengenalan partikular menjadi pengenalan-pengenalan universal.[4]
Rasionalisme Filsafat
Embrio dasar Rasionalisme Descartes kemudian menuai banyak cabang-cabang Rasionalisme. Aliran-aliran madzhab Rasionalisme bermunculan seiring dengan menggeliatnya doktrin ini. Setidaknya ada tiga sub-madzhab Rasionalisme yang berkembang di belahan dunia Barat. Ketiga sub-madzhab tersebut akan kami sebutkan secara selintasan di sini.
1. Rasionalisme, dalam kosmos filsafat, adalah sebuah sistem berpikir yang menekankan peran nalar dalam mencerap ilmu. Kebalikan dari Empirisisme, yang menekankan peran pengalaman, khususnya indra dan persepsi.
2. Rasionalisme dalam ranah teologi (baca: Deism) adalah kebalikan dari Fideism yang lebih mengedepankan akal atas iman, dan seluruh asas dan hakikat agama dapat dibuktikan dengan rasio. Tidak bersandar melulu kepada iman.
3. Rasionalisme pada masa Aufklarung (Age of Reason). Istilah teknis ini digunakan untuk penyifatan terhadap pandangan-pandangan dunia (weltanschauung) filsuf-filsuf pada masa itu. Reason dalam persfektif mereka adalah opposite meaning dengan iman, otoritas tradisional, puritanisme dan khurafat. Tentunya di sini posisi mereka bertentangan secara diametral dengan kaum Masehi tradisional. Para cendekiawan rausyan fikr ini beranggapan bahwa akal adalah piranti reliabel dan akseptabel dalam perkara-perkara yang bertalian dengan hauzah kehidupan manusia, seperti ilmu, agama, etika, politik, etc.[12]
Tentu saja, bukan tempatnya di sini untuk membahas satu-persatu sub-madzhab Rasionalisme ini. Sub-madzhab Rasionalisme yang menjadi fokus pembahasan kita kali ini adalah Rasionalisme Filsafat. Rasionalisme filsafat sendiri memiliki bagian yang lebih khusus, realistis dan idealistis.
Rasionalisme Filsafat Realistis
Menurut pandangan sub-madzhab ini kaidah-kaidah dan pemahaman-pemahaman tidak hanya untuk subjek akan tetapi juga bertaut dengan objek.
Plato dan para pengikutnya berpandangan bahwa premis yang digunakan untuk menalar sesuatu adalah bersandarkan kepada akal, tidak berdasarkan indra dan pengalaman. Nilai premis dan kaidah ini bersifat mutlak. Maksudnya adalah kaidah dan premis ini tidak hanya berupa kaidah berpikir tetapi juga termasuk ilmu dan perbuatan Tuhan. Dengan kata lain, kaidah-kaidah niscaya segala maujud pada ilmu Tuhan, wujud dan eksis. Dan seluruh benda tercipta berdasaran kaidah ini. Dan akal adalah basis penalaran ini. Menurut Plato, di atas dunia kendriya ini terdapat alam-alam ide (mutsul) atau a'yan tsubut yang menjadi sumber maujud dan pengetahuan (ma'rifat). Plato berkeyakinan bahwa jiwa manusia sebelum memasuki alam kendriya dia berada pada alam ide (mitsal) dan beranggapan bahwa dustur pemikiran manusia berasal dari iluminasi (isyraq) Ilahi.
Pandangan Descartes dan para pengikutnya adalah bahwa dustur-dustur pemikiran tidak bersandar kepada hasil pengalaman. Menurut Descartes kaidah-kaidah ini juga tidak hadir semenjak di alam-alam ide (mutsul) serta tidak berdasarkan ilmunasi (isyraqi), berbeda dengan Plato, akan tetapi dustur-dustur pemikiran ini hadir secara fitri bersama lahirnya manusia ke alam dunia ini.[13]
Rasionalisme Filsafat Idealitis
Pendukung sub-madzhab ini adalah Immanuel Kant. Menurut Kant, seluruh hukum-hukum universal dan daruri tidak bersumber dari pengalaman; akan tetapi bersandarkan kepada akal dan mental (zihn). Kant berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dapat kita raih bertaut dengan phenomena, namun (noumena) esensi benda-benda tidak dapat dikenal oleh manusia. Kendati demikian, menurut Kant, apa yang tidak dapat dicapai oleh speculative reason dapat dicapai oleh practical reason dan bertolak dari practical reason ini manusia dapat mencapai Tuhan, ma'ad dan kebebasan (freewill).[14]
[1] . Ilahi Nâme, Ustadz Allamah Hasan Hasan Zadeh Âmuli.
[2] . Amuzesy-e Falsafeh, Ustadz Ayatullah Misbah Yazdi, hal. 223.
[3] . Syahid Sayyid Bâqir Sadr Ra, Our Philosophy, hal. 41, Ansariyan Publications, 2000.
[4] . Ma'rifat Syinâsi, Sayyid Husain Ibrahimiyan, Abzâr-e Syenâkht, hal-hal. 183-187.
[5] . Idem.,
[6] . Encarta Dictionary Tools.
[7] . Majalah Mingguan, Ma'rifat, edisi 76, hal 94.
[8] . Seperti yang dikutip dalam buku Kalâm-e Jadid, hal. 58, yang bersumber dari beberapa Kamus Standar Bahasa Arab, seperti Lisân al-Arabi, dan Majma'ul Bahrain.
[9] . Kalâm-e Jadid, Câp-e Duwwum, Abdul Husain Khusru Panâh, et al. hal. 59.
[10] . Farhang-e Falsafah, Dr. Jamil Saliba, hal. 475.
[11] . Farhang-e Istilahat-e Irfan, hal 576.
[12] . Farhang-e Wâzyehâ, bab Rasionalisme.
[13]. Farhang-e Wâzyehâ, hal. 381.
[14] . Idem., hal. 382.