Cakrawala, 28/4/2006
Meragukan Kesangsian Descartes
A. Kamil
الهى هر چه بيشتر دانستم نادانتر شدم بر نادانيم بيفزا
Tuhanku, semakin Aku berilmu semakin bertambah kejahilanku, tambahkanlah kejahilan kepadaku.
Merunut kembali dari apa yang dibahas pada kesempatan-kesempatan yang lalu, telah diurai secara semi-detail ihwal Mazhab Rasionalisme, yang kemudian lebih mengurucut menjadi Rasionalisme Filsafat Realistik dan Rasionalisme Filsafat Idealistik.
Kali ini makalah sederhana ini dialokasikan untuk membahas tokoh Mazhab Rasionalis serta memberikan sedikit catatan-catatan tentang ketidakutuhan postulat Descartes yang beranggapan bahwa tidak ada yang lebih niscaya dan meragukan dari menggunakan postulat "Aku ragu" (dubito) atau "Aku berpikir" (cogito) dalam berkonfrontasi dengan realitas. Mengapa, menurut Descartes, lantaran mustahil ragu hadir tanpa peragu. Dengan meragukan segala sesuatu (to doubt all things) Descartes mencoba menguak realitas dunia luar. Layak untuk ditegaskan kembali bahwa Descartes mengusung postulat ini adalah untuk berhadapan dengan kaum Skeptisme yang mengingkari realitas. Descartes dalam redaksi postulatnya "Cogito ergo Sum" atau "Dubito ergo Sum" menggunakan bahasa Latin.
Menyoroti redaksi "Dubito Ergo Sum", dubito derivasinya dari dubitare dengan pronomina "to". Berbeda kalau dubito yang diungkapkan oleh Descartes diartikan sebagai "scecttico" yang berpadanan dengan "sceptic" dalam bahasa Inggris. Skeptism dalam bahasa Itali (Latin kiwari) sepadan dengan "scetticismo". Skeptic dengan ajektif menjadi "skeptical" dalam kamus Oxford bermakna "unwilling to believe something" sementara "doubt" sekedar bermakna tidak yakin saja atau uncertain, not sure. Socrates maju ke depan menghadapi puak-puak Sofis yang memang meragukan seluruh realitas. Bahkan pada titik kulminasinya, mereka menolak realitas yang ada. Puak-puak Sofis ini yang kemudian dikenal sebagai penganut paham skeptic mutlak; yaitu menolak semua realitas.
Dalam dunia sains dewasa ini terminologi "The Benefit of Doubt" adalah yang mendorong orang untuk mencari kebenaran-kebenaran sains. Bukan untuk menolaknya. Yaitu meragukan sesuatu kemudian menyingkapnya dengan penelitian dan pengkajian.
Pembahasan kita kali ini mendedah "Madzhab Rasionalisme" bukan pembahasan semantik, oleh karena itu kami cukupkan hingga di sini. Sebagai pemantik, dalam New Theology juga disebutkan bahwa skeptism terbagi menjadi dua, Old Skeptism dan New Skeptism.
Kini kita kembali kepada pembahasan utama, seperti yang disebutkan dalam "Discourse on Methods", Descartes mengatakan bahwa postulat "Aku berfikir, karena itu Aku ada" adalah sedemikian kukuh dan niscaya.. sehingga kaum Skeptis tidak lagi dapat menggoyahkannya. Postulat "Aku berpikir (cogito) atau Aku ragu (dubito), yakni apabila seorang meragukan segala sesuatu, ia tetap tidak akan pernah meragukan keberadaan dirinya sendiri. Mengingat keraguan tidak bermakna tanpa peragu, maka keberadaan manusia peragu dan pemikir adalah sesuatu yang tidak bisa diragukan. Kebenaran tentang aku yang meragukan ini bagi Descartes merupakan kepastian karena aku mengerti hal itu dengan ‘jelas dan khas’ (clear and distinc). Metode sangsi ini yang kemudian menjadi starting point filsafat Descartes.
Isykalan yang dapat dikenakan kepada Descartes adalah, dia berargumentasi dengan wujudnya ragu atas diri (nafs). Sementara manusia sebelum mencapai terminal ragu, terlebih dahulu dia harus temukan dirinya. Dan Descartes sendiri yang berkata "Aku ragu (dubito)" dari sini akan menjadi terang bahwa Descartes tidak menemukan "ragu mutlak" akan tetapi "ragu bersyarat". Sebelum dia menemukan "keraguan", terlebih dahulu dia jumpai dirinya sendiri. Maksudnya adalah Descartes sebelum dia memberikan hukum dan berkata "ergo sum" dia telah mengitsbat dirinya pada kata "to". Dan tak tercapai lagi gilirannya ketika dia mengejar "ergo sum".
Oleh karena itu, jika sekiranya ada orang yang beranggapan bahwa tidak ada yang paling niscaya dan jelas yang sederajat dengan "Aku ragu" bahkan keberadaan peragu itu sendiri berasal dari rasa ragu itu sendiri, sementara anggapan ini keliru, akan tetapi eksistensi "Aku" at least, seukuran ragu yang merupakan salah satu kondisi seseorang, maka anggapan ini jelas dan tidak dapat diragukan. Namun rahasia undubitable-nya ragu dan peragu terletak pada pendedahan jenis-jenis dan bagian-bagian ilmu dan pencerapan. Maksudnya, ragu dan peragu terletak pada knowledge by presence (ilm huduri). Insya…. ke depan kita akan membahas divisi ilmu pengetahuan yang terbagi menjadi dua, acquired knowledge (ilm husuli) dan knowledge by presence (ilm huduri). Kali ini pembahasan kita ingin menyoal kembali atau meragukan kesangsian Descartes yang mengklaim dapat menguak full-realitas.
Burhan yang diusung oleh Descartes adalah didapatkan melalui burhan intuisi efek jiwa. Meskipun anehnya, sebagian cendekiawan Barat dan Iran ketika menelaah karya Ibn Sina beranggapan bahwa burhan popular dari Ibn Sina dalam membuktikan tajarrud-e nafs adalah serupa dengan burhan popular Descartes. Dan Descartes memplagiatnya dari Ibn Sina. Padahal menganggap burhan yang diusung oleh Ibn Sina dan burhan yang dipopulerkan oleh Descartes sebagai suatu hal yang satu adalah sebuah kesalahan besar. Lantaran, Ibn Sina dengan jalan mendapatkannya dengan "indirect intuition" (musyâhada bela wâsat-e) dan langsung (ilm huduri) merembes masuk ke dalam nafs.
Menurut Ayatullah Aqa-e Jawadi Amuli dalam kitabnya, A Commentary on Theistic Arguments (terjemahan dari Parsi, Tabyin-e Barâhin Itsbât-e Wujud-e Khudâ), mengatakan kegagalan Descartes dalam menguak realitas melalui efek-efek dirinya. Descartes menempatkan dirinya sebagai realitas pertama dengan menggunakan ragu sebagai "hadd-e wasat" dalam argumennya tersebut. Untuk membuktikan ekistensi jiwa seseorang dengan menggunakan keraguan dan pemikiran sebagai hadd-e wasat, di samping menempatkan diri di antara hal-hal yang sudah eksis melalui wujud zihn dan terdapat di dalam kontainer zihn (benak), argumen ini telah menggoncang tatanan primernya (awwaliyah) pengetahuan terhadap zihn (benak) itu sendiri.[2]
Lagi, menurut Ayatullah Aqa-e Jawadi Amuli, yang menukil dari Ibn Sina (al-Isyarât wa al-Tanbihât dan Psikologi Syifa) dan Mullah Sadra (pembahasan psikologi Asfar), bahwa manusia tidak dapat membuktikan wujudnya melalui efek-efeknya sendiri, misalnya melalui zihn (mental) atau eksternal (khariji), kognitif (nazari) atau praktikal ('amali).
Ibn Sina dalam Isyârat wa al-Tanbihât, berargumen bahwa jika seseorang meragukan dirinya dan hendak membuktikannya melalui efek-efeknya, melalui pikirannya, dia ingin mengitsbat dirinya, dalam premis minor, dia akan menyebutkan pikiran mutlak atau pikirannya sendiri. Jika efek (pikiran) yang disebutkan secara mutlak, tidak menyebut "pikiranku", argument ini tidak dapat meng-itsbat dirinya. At most, hanya akan menunjukkan bahwa terdapat seorang pelaku dari atsar (efek) tersebut, seorang pemikir, yang memproduksi pikiran ini. Namun, jika pikiran-pikiran yang disebutkan di sini misalnya, "Aku berpikir" dalam kasus ini, "Aku" dan realitasnya telah diprasupposisikan sebagai pelaku pikiran tersebut, oleh karena itu, sebagai konklusinya tidak dapat mendemonstrasikan eksistensi diri.
Argumen Ibn Sina mengilustrasikan bahwa manusia tidak dapat mengenal dirinya sendiri melalui argument-argumen rasional dan hadd-e wasat (middle terms) seperti pikirannya, bahkan, dia secara intuitif mengetahui dirinya sebelum melalui efek-efeknya.
Dengan demikian, postulat "Cogito Ergo Sum" atau "Dubito Ergo Sum" yang diintrodusir oleh Descartes sebagai metode sangsi dalam memahami dan menguak tabir realitas masih layak untuk diragukan. [bersambung]