Cakrawala, 5/12/2005
Sejarah Islam; Kekerasan & Dongeng
El-Hurr
Seandainya agama Islam dapat berjalan seperti sejarahnya yang pertama,
Dan tidak terjadi fitnah di antara kaum muslimin
Niscaya agama Islam akan dapat menguasai seluruh dunia
- Waltz -
Islam adalah agama yang praktis dan realistis
Yang melihat intelegensi manusia dan wahyu Ilahi
Berada dan berdampingan dan bekerjasama secara serasi
- Karen Armstrong -
Muhammad: A Western Attempt To Understand Islam. Karen Armstrong menulis; setelah Muhammad hijrah pada tahun 622, masyarakat Islam yang kecil telah melangkahkan kakinya yang pertama menuju kekuasaan politik: sepuluh tahun kemudian umat Islam menguasai hampir seluruh Arabia dan telah meletakkan fondasi bagi sebuah system politik Arab baru, yang memungkinkan kaum muslim menguasai kerajaan yang sangat luas selama ribuan tahun. Keberhasilan politik ini telah mengundang kesulitan dan perjuangan terus menerus. Tahun-tahun yang penuh gejolak di Madinah telah menunjukkan betapa sulitnya dan betapa riskannya untuk mencoba membangun kembali masyarakat sesuai dengan rencana Tuhan.
Menjelang tahun 622, tampak sudah seakan-akan kehendak Tuhan akan terjadi di Arabia. Berbeda dengan begitu banyak Nabi-nabi terdahulu, Muhammad saaw. Bukan saja mengajarkan laki-laki dan perempuan tentang visi harapan baru, tetapi ia juga telah berusaha memikul tugas untuk menyelamatkan sejarah manusia dan menciptakan masyarakat yang adil, yang memberikan peluang kepada setiap manusia, laki-laki dan perempuan, untuk mengaktualkan potensinya yang sebenarnya.
Keberhasilan politik umat telah hampir menjadi semacam sakramen bagi kaum muslim; ini merupakan pertanda lahir dari kehadiran tak terlihat Tuhan di tengah-tengah mereka. Kegiatan politik akan terus menjadi tanggung jawab suci dan keberhasilan kekuasaan Islam dikemudian hari menjadi signal, manusia secara keseluruhan dapat diselamatkan. Demikianlah mantan biarawati katolik Roma ini menulis tentang Nabi Muhammad saaw.
Namun keselamatan individu tak dapat dicapai jika rangkaian pertumpahan darah yang tak kunjung berakhir dan penindasan berlangsung terus di Arabia: masyarakat yang korup dan centang-perenang, tidak bisa tidak, akan melahirkan imoralitas, kemandekan, dan keputus-asaan pada seluruh anggota masyarakat, kecuali pada segelintir pahlawan. Jadi, situasi Arabia abad ke tujuh menuntut rancangan keselamatan yang social dan sekaligus individual.
Muhammad al-Musthafa saaw. beserta sahabatnya yang terpilih telah berjuang tanpa lelah. Perjuangan itu menghasilkan sekian kecemerlangan dengan bersatunya umat manusia dalam satu panji al-Islam. Al-Islam yang damai dan memberikan kedamaian, membawa keselamatan dan persatuan dan persaudaraan. Sayang, itu semua berlalu besama rihlah –nya beliau. Muhammad wafat meninggalkan umatnya yang belia, yang berusaha terus eksist dan kokoh di hadapan kekuasaan dunia. Sayang, beliau wafat, umatnya berubah begitu cepat. Sejarah Islam berubah dalam wajah yang lain. Yang menyeramkan sekaligus menggelikan!.
Peristiwa Penolakan Membayar Zakat
Ahli sejarah menyebutkan bahwa sepeninggal Nabi saaw. ada yang mengaku Nabi, ada yang murtad dan menobatkan diri sebagai raja, ada juga yang tidak mau membayar zakat. Problem utama kaum muslim ini dikenal dengan nama "kemurtadan".
Kita dapat mengklasifikasikan mereka ke dalam beberapa kelompok; Kelompok pertama adalah orang-orang yang mengaku Nabi. Kelompok kedua adalah orang-orang yang keluar dari Islam dan kembali ke keyakinan semula, yaitu keyakinan yang mereka anut di zaman jahiliyah. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang tidak mengakui pemerintahan Madinah, karena itu mereka tidak mau menyerahkan zakat kepada pemerintahan Madinah. Dalam kelompok ini ada orang-orang yang tidak mengakui pemerintahan Abu Bakar. Kita hanya akan membatasi studi kita pada kelompok ketiga saja.
Banyak dokumen sejarah menunjukkan bahwa beberapa suku dianggap murtad hanya karena mereka tak mau membayar zakat kepada pemerintah. Sebagai contoh, sekelompok orang Yamamah menerima prinsip membayar zakat sebagai sebuah kebenaran, namun mereka tidak mau membayar dan menyerahkan zakat kepada Abu Bakar. Mereka sering berkata "Kami himpun zakat dari orang-orang kaya suku kami. Lalu kami bagikan kepada kaum fakir miskin di kalangan kami sendiri. Kami tak akan pernah membayar atau menyerahkan zakat kepada orang yang tak direkomendasikan oleh al-Qur'an dan Sunnah." (lih. Al-Ifshah, hal.121).
Atas nama Ashim Minqari, Qais mendapat tugas dari Nabi saaw. untuk menghimpun zakat dari sukunya. Setelah Nabi wafat, Qais tetap menghimpun zakat, namun bukan diserahkan kepada Abu Bakar, Qais membagikannya kepada kaum fakir miskin sukunya. Tindakan Qais ini dianggap sebagai tindak kejahatan (lih. Ad-Durrah al-Fakhirah, hal.324, Majma' al-Amtsal 2/65).
Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa banyak Muslim yang tak mau menyerahkan zakat mereka kepada Abu Bakar (al-Bidayah wa an-Nihayah 6/311). Naubakhti menulis, bahwa ada sekelompok orang mengatakan tak mau menyerahkan zakat mereka kecuali diketahui siapa yang memegang pemerintahan. Karena itu mereka membagikan zakat kepada kaum fakis miskin (lih. Firaq asy-Syi'ah, hal.4).
Selain tidak mengakui pemerintahan Abu Bakar, suku-suku yang tidak mau membayar zakat ini, setelah mendengar kabar wafatnya Nabi, mereka pun memutuskan hubungan dengan Madinah, mereka hanya merasa bahwa hubungan mereka dengan Madinah adalah hubungan keagamaan. Maka ketika Nabi wafat, mereka pun merasa tak perlu menerima pemerintahan orang lain. Karena mereka tidak mau membayar zakat kepada pemerintah Madinah, maka mereka pun dicap murtad (Tarikh al-'Arab wa al-Islam, hal.71 / Tathawwur al-Fikr as-Siyasi 'Ind ahli Sunnah, hal.38).
Bagaimana dengan pihak Madinah sendiri? Ibnu A'tsam menjelaskan, problemnya hanya masalah kekhilafahan Abu Bakar. Untuk mewujudkan niatnya memerangi suku-suku Kinda, maka Abu Bakar memanggil Umar. Kepada Umar, Abu Bakar mengatakan, "Aku bermaksud mengutus Ali Bin Abi Thalib untuk memerangi mereka, karena dia adil, berani, sangat tinggi kualitasnya, tahu dan juga dapat menangani urusan." Umar berkata "Anda benar, Ali memang seperti yang anda sebutkan. Namun aku takut satu hal. Aku takut dia tidak mau memerangi mereka. Jika dia tidak mau, maka tak ada orang lain yang dapat menggantikannya (lih. al-Futuh 1/71-72). Dan seperti kata Umar, Imam Ali Bin Abi Thalib memang menentang keputusan Abu Bakar.
Maqdisi mengatakan, penentangan tetap ada, sebagian muslim yakin bahwa memerangi orang-orang yang tak mau menyerahkan zakat kepada pemerintah merupakan sebuah kesalahan (lih. al-Bad' wa at-Tarikh 5/123). Tak syak lagi mayoritas sahabat Nabi saaw. tidak setuju dengan ide Abu Bakar untuk memerangi orang-orang yang tak mau membayar atau menyerahkan zakat kepadanya (lih. Jami' al-Bayan al-'Ilm 2/104/1255).
Menurut Ibn A'tsam, ketika Abu Bakar ingin membunuh para tawanan perang Raddah (Abu Bakar menugaskan Khalid untuk membunuh para kaum Riddah, untuk membakar mereka, untuk menawan anak-anak dan wanita mereka, dan untuk membagi harta mereka) Umar berkata: "Orang-orang ini mengimani Islam, dan mereka juga telah menegaskan kebenaran Islam. Penjarakan mereka untuk sementara waktu demi mengetahui apa yang akan terjadi nanti." Menurut Syahristani, karena belum percaya bahwa suku-suku ini telah murtad, maka Umar membebaskan para tawanan ketika menjadi khalifah kedua (lih. al-Milal wa an-Nihal 1/31, Jami al-Bayan al-'Ilm 2/129).
Bagaimana dengan Abu Bakar sendiri? Abu Bakar berkata: Jika mereka tak mau menyerahkan zakat kepadaku, zakat yang biasa mereka serahkan kepada Nabi saaw. setiap tahun, maka aku akan perangi mereka." Betulkah suku-suku ini telah murtad? Atau bolehkah mmerangi suku-suku ini? Aksi-aksi memerangi ini dapat dijelaskan sebagai taktik yang dibituhkan untuk menjaga keselamatan atau mempertahankan pemerintahan. Abu Bakar bersikeras memungut zakat dari semua suku. Kenapa demikian? Karena Abu Bakar bermaksud memperkuat pemerintahannya di Madinah.
Umar Bin Khattab, Ka'ab al-Akhbar dan Syi'ah
Sejarawan mencatat mengenai sumber-sumber pemikiran agama dan politik Khalifah Umar bin Khattab. Selain apa yang didapat dapat dari ajaran Islam, Umar berupaya memperkaya pemikirannya dengan mengambil dari sumber-sumber lain, di antaranya adalah pengetahuan atau ilmu yang dimiliki ahlulkitab, dan di Hijaz kaum Yahudi memiliki banyak pengetahuan seperti itu.
Pertama-tama harus diakui bahwa seluruh kelompok-kelompok Islam mengecam langkah seperti ini. Kecaman ini terutama didasarkan pada landasan bahwa kaum Yahudi sangat dipandang hina oleh al-Qur'an serta Hadits, dan tentu saja oleh kaum Muslim. Perlu juga diketahui bahwa ditemukan adanya jejak atau pengaruh ahlullitab pada umumnya serta kaum Yahudi pada khususnya dalama teks-teks sejarah atau hadits. Pengaruh lebih kurang terlihat pada hamper semua kelompok Muslim. Namun ada sebagian teks yang menunjukkan bahwa ahlulkitab telah mendapatkan posisi dalam mesyarakat baru ini dengan mengandalkan pengetahuan dan ilmu mereka dengan bertumpu pada pengaruh budaya yang mereka warisi dari zaman jahiliyah.
Ketika Umar berkuasa, ia bertemu dengan seorang Yahudi Yaman yang baru masuk Islam, orang ini bernama Ka'ab bin Mati' Himyari yang dikenal dengan nama Ka'ab al-Akhbar. -Ka'ab kemudian tercatat adalah seorang Yahudi yang sangat mengetahui Taurat, dari dia jugalah Umar kemudian sering meminta saran, nasehat dan ilmu-. Ka'ab masuk Islam setelah Nabi saaw. wafat, yaitu pada zaman Abu Bakar dan Umar, kemudian Ka'ab datang ke Madinah. Ka'ab al-Akhbar mati pada 32 atau 33 H di kota Himsh. Pada saat itu sebuah makam yang berkubah tinggi dibangun untuknya di Mesir. Ka'ab al-Akhbar menjadi sumber andal dan terpercaya selama berabad-abad, sehingga ia banyak dijadikan rujukan dalam buku-buku sejarah dan tafsir (lih. Hilyat al-Awliya' 5/6). Namun sekarang ini, sekalipun sudah banyak dilakukan penelitian-penelitian baru, sosok Ka'ab al-Akhbar tetap diliputi misteri.
Syahab Zuhri menyebutkan, "Orang yang mula-mula memberikan sebutan Faruq kepada Umar adalah ahlulkitab. Tak ada berita yang sampai ke kita mengindikasikan bahwa sebutan tersebut diberikan oleh Nabi (lih. Tarikh Madinah al-Munawwarah 1/66, al-Muntakhab Min Dziyl al-Mudzayyal, hal. 40. dikutip dari perkataan Ka'ab al-Akhbar kepada Mu'awiyah, "Umar al-Faruq adalah gelar atau sebutan yang adala dalam Taurat." Lihat juga Mutkhtashar Tarikh Dimasyq 21/186).
Umar juga terkenal dalam sejarah sangat mendengar perkataan Ka'ab yang selalu melegitimasi perkataannya dengan "sabda Tuhan dan kitab Tuhan" yaitu Taurat. Seperti kasus, ketika Umar ingin bepergian ke Irak, Ka'ab mengatakan kepada Umar, "Jangan pergi ke Irak karena di Irak banyak jinnya, dan sembilan persepuluh ilmu hitam atau sihir juga ada di sana". Kejadian ini bersumber dari Saif Bin Umar, menyebutkan ketika terjadi wabah di Irak, Umar meminta para pembantunya untuk memberikan saran tentang berbagai kota. Ka'ab berkata seperti berikut ini tentang Irak dalam rangka menanggapi langkah Umar meminta saran (lih. Tarikh Thabari 4/59-60).
Tentang kematiannya, Umar pun sangat mempercayai perkataan Ka'ab. Kepada Umar, Ka'ab berkata bahwa dirinya membaca dalam Taurat bahwa khalifah Umar adalah seorang Imam yang adil lagi syahid.Ka'ab juga tahu persis kapan dan sebab apa Umur terbunuh telah tertulis dalam Taurat.
Muazin Umar mengatakan, "khalifah Umar menugaskan aku untuk menjemput Uskup. Aku bawa Uskup itu, lalu dia duduk bersama Umar di bawah satu naungan." Umar bertanya,"Benarkah anda mendapati namaku termaktub dalam kitab-kitab anda?" "Benar" sahut si Uskup. Umar bertanya, "Seperti apa?" "Seperti tanjuk' jaawab Uskup. Umar kemudian mengangkat cemeti dan berkata "Ada apa di tandukku?" si Uskup menjawab "Sebuah tanduk besi yang bagus lagi kuat,"……(lih.Ma'rifat as-Shahabah 1/213).
Demikianlah sejarah manis khalifah Umar, salah satu khulafa ar-Rasyidin ini berjalan berjalan bersama "dongeng-dongeng" Ka'ab al-Akhbar si Yahudi. Ironisnya –seperti yang telah disinggung terdahulu- orang-orang Yahudi ini malah mendapat tempat di tengah kaum Muslim. Penerimaan pada kabar dan riwayat dari orang-orang yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya ini telah membawa bencana berkepanjangan bagi sejarah intelektualitas, kemanusian dan aqidah di dunia Islam. Terakhir, efek terpahit dari penerimaan kita terhadap berita orang-orang Yahudi ini paling dirasakan oleh saudara kita kaum muslim Syi'ah di berbagai pelosok dunia.
Dinasti Umayyah
Pada masa pemerintahan ‘Abdul Malik bin Marwan, al-Hajjaj sudah terkenal sebagai panglima yang sangat kejam. Ia memasukkan ribuan orang ke penjara tanpa pengadilan. Tangannya begelimang darah orang-orang tak bersalah. Tapi, dengan tangan itu pula, ia menegakkan tonggak-tonggak kekuasaan Abdul Malik. Ia berhasil memadamkan berbagai kerusuhan yang mengancam stabilitas Negara. Di antara kerusuhan yang paling besar ialah pemberontakan penduduk Hijaz di bawah pimpinan Abdullah bin Zubaer.
Abdullah berlindung di masjidil Haram, di dekat Ka’bah. Al-Hajjaj mengepungnya berhari-hari. Pada suatu hari, al-Hajjaj menyerbunya dan berhasil membunuhnya di dekat Ka’bah, di hadapan ibunya sendiri. Abdullah adalah putra Asma binti Abu Bakar, perempuan yang berjasa dalam peristiwa hijrah Rasul. Ia terkenal shaleh. Bila ia shalat di masjid Haram, ia berdiri lama sekali, sehingga burung-burung hinggap di pundaknya. Ketika al-Hajjaj membunuh Abdullah, Makkah bergemuruh dengan suara tangisan.
Al-Hajjaj mendengar tangisan itu. Ia tahu rakyat menangisi kematian Abdullah. Ia buru-buru menemui ibu Abdullah. “Anakmu telah berbuat kekafiran di Baytullah.” Kata al-Hajjaj menjelaskan. “Tuhan telah memberinya siksa yang pedih.” Asma meradang “Bohong. Ia sangat berbakti kepada orang tuanya. Ia banyak puasa dan shalat. Aku pernah mendengan Rasulullah saaw. bersabda, “Akan muncul dari Tsaqif dua orang pendusta, yang terakhir lebih jelak dari yang pertama karena ia selalu menghancurkan. Dan terkahir itu kau, hai al-Hajjaj!.”
Al-Hajjaj tidak menyahut, ia menyuruh orang-orang berkumpul di Masjid. Ia naik mimbar, berkhutbah, “Hai ahli Makkah, aku mendengar kalian membesar-besarkan kematian Ibnu Zubair, Memang benar ia orang yang paling baik di tengah-tengah umat ini. Tetapi itu dulu, sebelum ia melakukan makar untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Lalu ia tidak taat kepada Allah dan melakukan yang haram. Adam di tempatkan di surga, melaikat disuruh sujud kepadanya. Tetapi ia kemudian bersalah, Tuhan mengeluarkannya dari surga karena kesalahnnya. Ketahuilah, Adam lebih mulia dan Ibnu Zubaer dan surga lebih mulia dari Ka’bah. Ingatlah kalian kepada Tuhan!”
Al-Hajjaj bukan hanya penghancur yang pandai, ia juga pintar memberikan legitimasi pada perbuatannya. Ketika masih muda, bersama bapaknya ia tinggal di Mesir. Pada suatu hari, Salim bin 'Anz lewat kehadapan mereka. Ayah al-Hajjaj berdiri menghormatinya, "Saya akan menemui Amirul Mukminin. Apakah ada pesan?" Salim berkata "Ada, mohonkan kepadanya agar aku diberhentikan dari jabatanku sebagai hakim agung!" Ayah al-Hajjad berkata "Subhanallah, aku tidak mengenal hakim lebih baik dari anda." Al-Hajjaj menegur ayahnya "Mengapa ayah berdiri menghormatinya. Orang-orang seperti dia membahayakan negara. Ia mengumpulkan manusia, lalu berbicara tentang keadilan Abu Bakar dan Umar. Akhirnya rakyat merendahkan Amirul Mukmin karena tidak berakhlak seperti akhlak Abu Bakar dan Umar. Nanti mereka melakukan kerusuhan, menentangnya, memusuhinya dan tidak mentaatinya, demi Allah, jika aku mempunyai kekuasaan, aku akan tebas leher-leher mereka. (lih.al-Bidayah wa an-Nihayah Ibnu Katsir 9/138).
Al-Hajjaj memenuhi sumpahnya. Begitu ia memegang komando, ia membabat semua orang yang dianggap menyebarkan kebencian kepada raja. Salah seorang ulama yang tidak disukainya adalah Ma'bad al-Juhani. Ia terkenal sebagai ahli ibadah dan zuhud. Ia ikut dalam perang Shiffin dan menyaksikan peristiwa tahkim. Al-Hajjaj membencinya karena ia mengajarkan bahwa manusia dapat memilih takdirnya. Ia memiliki kemauan bebas. Ma'bad dicap sebagai pendiri mazhab Qadariyyah, paham ini dianggap berbahaya bagikekuasaan. Pemerintah menetapkan Qadariyyah sebagai aliran terlarang. Sebagai gantinya, disebarkanlah paham Jabariyyah.
Syibli Nu'man, ahli ilmu kalam, menegaskan bahwa asal-usul paham Jabariyyah itu secara politis. Bani Umayah memerintah dengan keras dan kejam. Rakyat menderita dan ingin memberontak. Pemerintah segera mengalihkan persoalan kepada takdir. Bila mereka kehilangan hartanya atau nyaawanya, yang dijadikankambing hitam adalah takdir. Salah satu tanda keimanan adalah menerima takdir dengan ridha. Tiba-tiba Ma'bad datang, ia bertanya kepada Hasan al-Bashri, "sejauh mana kebenaran Umawiyyin –orang-orang Umawiyah- tentang qadha dan qadhar?" Hasan al-Basri menjawab singkat, "Mereka pendusta."
Ma'bad pindah dari Bashra ke Madinah. Di situ ia menyebarkan pahamnya, manusia diberi kebebasan untuk memilih (ikhtiyar). Ia dapat menentukan nasibnya. Seorang berkuasa bukan karena ia diridhai Allah swt. Ia berkuasa karena berhasil merebut kekuasaan dengan cara apa saja. Al-Hajjaj memburunya ke Madinah. Ia ditangkap dan disiksa. Menurut suatu riwayat, dia diserahkan kepada raja Abdul Malik, ia dihukum mati, dan disalib di Damaskus. (lih. Al-I'lam az-Zarkasyi 6/178).
Kepada Ma'bad kemudian dinisbahkan berbagai cerita rekaan. Konon, ia belajar paham Qadariyyah dari orang Nashrani. Para ulama mengutuknya di minbar-minbar. Sebagian ahli hadits memasukkannya ke dalam kelompok orang yang tidak dapat dipercaya. Az-Dzhabi menyebutnya dalam Mizan al-I'tidal dengan segenap celaan padanya. Ad-Daruquthni memberikan komentar moderat, "Ma'bad itu haditsnya bagus, hanya mazhabnya yang jelek.
Keluarga Nabi saaw, Dinasti Umayyah, dan Syi'ah
Dinasti Umayyah memiliki tiga lawan tangguh: kaum Khawarij yang sangat menyusahkan Bani Umayyah pada berbagai kurun waktu; kaum muslimin Syi'ah yang sudah menentang Mu'awiyah sejak zaman Ali; dan setelah itu Imam Husain, kaum Thawwabin, Mukhtar, Zaid bin Ali, dan Yahya bin Yazid yang bangkit melakukan aksi perlawanan terhadap dinasti Umayah.
Perlawan terjadi dimana-mana. Dua gelombang saling bertemu, dinasti Umayah dengan segala regresifitas dan kekejamannya, melawan pengikut Ali dan Ahlu Bait Nabi saaw. sebagai lambang dari kesungguhan dan keberanian melawan kesewenang-wenangan dinasti perusak ini. Dinasti Umayah dan segenap aparaturnya merasa tidak mampu memadamkan perlawanan fisik para Syi'ah Ali, maka dikembangkanlah kemudian perang urat saraf. Di sepanjang kekuasaan dinasti Umayah, pengutukan Imam Ali, keturunan dan pengikutnya di atas mimbar-mimbar masjid terjadi di seluruh daerah kekuasaan Bani Umayah.
Suatu hari, Hajjaj meminta gubernur Fars untuk mendesak Athiyah bin Sa'ad untuk mengutuk Imam Ali, dan jika Athiyah tidak mau mengutuk, supaya dicambuk empat rarus kali dan digunduli kepalanya sebagai hukuman (Tabaqat al-Kubra 6/306). Beberapa orang seperti Ibnu Abi Laila seorang faqih Irak, diminta mengutuk Imam Ali di depan public (lih.Ansab al-Asyraf 2/181). Ketika Hisyam pada 106 H, tahun kedua dia menjadi khalifah, datang ke HIjaz untuk beribah haji, gubernur Madinah, salah seorang cucu Usman, setelah menyebut-nyebut kebajikan dan kualitas terpuji Usman, mengatakan kepada khalifah (Hisyam), "Di kawasan sini mengutuk Abu Turab (maksudnya Imam Ali) biasa dilakukan orang, dan sekarang anda bisa melakukan adat ini juga" (lih.Tarikh at-Thabari 5/484-485).
Aparat dinasti Umayah melontarkan kata-kata penghinaan terhadap keluarga Imam Ali di seluruh negeri Islam untuk menghancurkan menghancurkan nama baik keluarga Imam Ali dan untuk menyingkirkan mereka dari arena politik dan intelektual dengan melemparkan fitnah. Itulah sebabnya kenapa perlakuan negative yang diperlihatkan dinasti Umayah tersebut mendapat pembenaran. Mua'wiyah, Abu Bakar, dan Umar sering merekayasa hadis untuk menghancurkan eksistensi kaum muslim Syi'ah yang disebut dengan "ekstrimis Rafidhi". Sekarang ini sebagian besar hadits rekayasa tersebut dapat kita temukan dalam kitab-kitab susunan kaum suni (lih.al-Maudhu'at 2/15, 1/304).
Yusuf bin Umar, gubernur Bani Umayah di Irak 120-126 H, selain memberangus aksi perlawanan Yazid bin Ali, juga membantai banyak muslim Syi'ah. Ibnu A'tsam menulis; Yusu bin Umar banyak membantai banyak muslim Syi'ah. Anda juga bisa menemukan tentang kekejaman, kebrutalan dan kezaliman yang meninpa Ahlulbait maupun kaum muslim Syi'ah dalam Tarikh Tasyayyu' hal.38-44).
Sekali Lagi Tentang Syi'ah
Di zaman Harun ar-Rasyid, seorang penulis bernama Saif bin Umar at-Tamimi (m.170 H) ia menulis dua buku:
- al-Futuh wa Riddah, mengenai penaklukkan daerah-daerah dan perang terhadap kaum murtad
- al-Jamal wa Masir Aisyah wa Ali , mengenai perang jamal antara Aisyah dan Ali.
Dalam kedua buku ini, Saif mendistorsi sejarah dan menulis cerita-cerita yang tidak pernah ditulis oleh sejarawan manapun. Ia memalsukan riwayat Nabi saaw. dengan menciptakan sahabat-sahabat yang tidak pernah ada dalam sejarah, seperti Sa'ir, al-Hazhaz, Uth dan Hamidhah, selain itu ia juga menyampaikan nama-nama tabi'in yang tidak pernah dikenal melalui hadits dan berita lain. Thabari adalah orang pertama yang menukil "dongeng Saif bin Umar" dan memasukkannya dalam kitab sejarhnya (at-Thabari), kemudian dikutip oleh sejarawan dan penulis firaq wa mazhahib yang lain.
Salah satu tokoh dan sejarah fiktif yang ia ciptakan adalah seorang yang bernama Abdullah bin Saba' sebagai pencipta ajaran Syi'ah sekaligus telah menimbulkan demikian banyak bencana yang menimpa kaum muslim Syi'ah. Bukan hanya itu, Saif bin Umar juga menciptakan tokoh-tokoh dan sahabat-sahabat Nabi fiktif sebanyak 150 orang. Yahudi dari Yaman ini, di samping menciptakan Abdullah bin Saba' dia juga mengarang dongeng horror tentang Syi'ah adalah buatan Ibnu Saba. Dia juga memasukkan nama berbagai kota dan sungai yang kenyataannya tidak pernah ada.(lih.as-Sayyid Murtdha al-Askari, Abdullah bin Saba' wa Asathir Ukhra dan Khamsun wa Mi'ah Shahabi Mukhtalaq).
Satu hal yang ganjil adalah, meskipun Saif bin Umar dituduh sebagai tidak bisa dipercaya oleh para ahli hadits separti Nasa'i, Abu Di, Dawud, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Hibban, Ibnu Abdil Bar, Firuzabadi, dan Ibn Hajar. Jumhur ulama hadits sepakat, bahwa riwayat yang disampaikan oleh seorang pembohong harus ditolak, tapi anehnya, laporan sejarah yang ditulisnya malah diterima? Para ulama menolak hadits dari Saif bin Umar tentang ar-Ridah wa al-Futuh karena dianggap pembohong, tetapi ceritanya sendiri tentang tokoh fiktif Abdullah bin Saba' dan mazhab Syi'ah selama ini diterima sebagai fakta sejarah!?.
Rasulullah wafat dan meninggalkan umatnya menulis sejarahnya sendiri. Berawal dari Shaqifah, kaum muslim yang membelot, peperangan antar sahabat, pengalihan kekhalifahan menjadi dinasti, dan pergumulan politik, kekuasaan dan ego pribadi memenuhi sejarah umat Nabi terakhir ini. Sejak itu, sejarah umat Islam dikuasai dengan dua hal: kekerasan dan dongeng. Kekerasaan perlu untuk membinasakan mereka secara fisik, dongeng penting untuk melumpuhkan mereka secara ruhaniah. Seringkali kita ridha menerima kekerasan, sambil mengulang-ulang dongeng yang dibuat orang untuk kita.[]