Back To Index

Beranda

 

Furu'uddin

 

94. Mengapa Doa Kita Kadang-kadang tidak Dikabulkan?

Perhatian terhadap kualitas syarat-syarat terkabulnya doa merupakan petunjuk akan realitas lain dari persoalan keterkabulan sebuah doa, dan akan memperjelas dampak positifnya. Dalam literatur-literatur Islam, kita menemukan syarat-syarat terkabulnya sebuah doa, antara lain:

a. Sebelum segala sesuatu, hendaknya berusaha mencapai kesucian kalbu dan ruh, bertaubah dari dosa-dosa, membersihkan jiwa, dan menjalani kehidupan dengan mengambil ilham dari kehidupan para pemimpin Ilahi.

Imam Sh-Shadiq a.s. berkata, “Janganlah salah satu dari kamu meminta kepada Allah swt. kecuali mengucapkan pujian terhada-Nya terlebih dahulu dan menyampaikan shalawat atas Rasulullah saw. dan keturunan sucinya, kemudian mengakui segala dosa di hadapan-Nya (dan bertaubah), barulah setelah itu memanjatkan doa.”

b. Hendaknya berusaha untuk menyucikan kehidupan dari kekayaan hasil rampasan (ghasab), kezaliman dan kekejian, dan menghindarkan diri dari makanan yang haram.

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menginginkan doanya terkabul, maka ia harus menyucikan makanan dan usahanya.”

c. Hendaknya tidak melepaskan diri dari amar makruf dan nahi munkar, karena orang yang meninggalkan amar makruf dan nahi munkar, doa-doanya tidak akan dikabulkan. Rasulullah saw. bersabda, “Lakukanlah amar makruf dan nahi munkar, karena kalau tidak, maka Allah swt. akan menempatkan keburukan-keburukan di atas kebaikan-kebaikan yang kamu miliki, dan tidak akan pernah mengabulkan doamu, betapapun kamu sering berdoa.”

Pada hakikatnya, meninggalkan kewajiban besar (amar makruf dan nahi munkar) ini akan mewujudkan ketidakseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang dampaknya adalah tersedianya kesempatan bagi para pembuat kerusakan di dalam masyarakat, dan doa tidak akan mempunyai pengaruh lagi untuk menanggulangi dampak tersebut, karena keadaan ini merupakan akibat yang nyata dari perbuatan-perbuatan manusia itu sendiri.

d. Hendaknya mengamalkan perjanjian Ilahi. Iman, amal salih, amanah dan kejujuran merupakan syarat lain dari terkabulnya doa, karena seseorang yang tidak setia terhadap janjinya sendiri di hadapan Allah swt., tidak selayaknya pula ia menunggu janji keterkabulan doa dari-Nya.

Seseorang datang kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. untuk mengadukan doanya yang tidak dikabulkan oleh Allah swt. Ia berkata, “Allah sendiri telah berfirman, ‘Berdoalah kamu, niscaya Aku akan mengabulkannya.’ Lalu, mengapa Dia tidak mengabulkan doaku padahal aku telah berdoa kepada-Nya?”

Imam Ali bin Abi Thalib a.s. menjawab, “Hati dan pikiran kamu telah mengkhianati delapan hal, (Oleh karena itu, doa kamu tidak dikabulkan):

- Kamu telah mengenal siapa Allah itu, akan tetapi tidak memenuhi hak-Nya. Oleh karena itu, pengenalan semacam ini tidak memberikan manfaat kepadamu.

- Kamu beriman kepada orang yang telah diutus oleh-Nya, akan tetapi kamu bangkit untuk menentang sunahnya. Lalu, ke manakah hasil dari keimananmu?

- Kamu membaca kitab-Nya, akan tetapi kamu tidak mengamalkannya. Kamu mengatakan bahwa kamu mendengar dan menaatinya, akan tetapi kamu bangkit untuk menentangnya.

- Kamu mengatakan bahwa kamu takut kepada hukuman dan siksaan Allah, akan tetapi perbuatan-perbuatanmu senantiasa mendekatkan dirimu kepadanya.

- Kamu mengatakan bahwa kamu menyukai pahala Ilahi, akan tetapi perbuatan-perbuatanmu semakin menjauhkanmu dari pahala-Nya.

- Kamu memakan nikmat Allah, akan tetapi kamu tidak mensyukurinya.

- Ia memerintahkanku untuk menjadi musuh setan (dan kamu malah menjalin persahabatan dengannya). Kamu mengklaim bahwa kamu memiliki permusuhan dengan setan, akan tetapi pada praktiknya kamu tidak pernah menentangnya.

- Kamu selalu memperhatikan cela-cela orang lain, sementara kamu menyembunyikan cela-celamu.

Dengan semua ini, bagaimana kamu menginginkan doamu akan terkabul? Perbaikilah perbuatan-perbuatanmu, lakukanlah amar makruf dan nahi munkar supaya doamu dikabulkan oleh-Nya.”

Hadis yang penuh makna ini menegaskan bahwa janji Allah untuk mengabulkan doamu adalah sebuah janji yang bersyarat, bukan janji yang mutlak. Dan syaratnya adalah pengamalan terhadap janji dan sumpahmu sendiri. Sementara, yang terjadi adalah kamu mengingkari kedelapan janji di atas. Apabila kamu menghentikan penghianatan ini, maka doamu akan menjadi dikabulkan.

Mengamalkan kedelapan syarat-syarat di atas -yang pada hakikatnya merupakan syarat-syarat terkabulnya sebuah doa- telah memadai apabila digunakan untuk mendidik manusia dan memanfaatkan kekuatannya dalam satu usaha yang membuahkan hasil.

e. Syarat lain dari terkabulnya doa adalah adanya korelasi antara doa dan usaha.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. pernah berkata, “Orang-orang yang berdoa tanpa amal dan usaha bak orang-orang yang memanah tanpa busur.”

Busur adalah faktor penggerak dan alat untuk melemparkan panah ke arah sasaran. Dengan demikian, peran amal dalam terkabulnya sebuah doa menjadi begitu jelas.

Rangkaian delapan syarat di atas merupakan penjelas dari sebuah realita bahwa doa bukan saja tidak berfungsi sebagai alternatif dari faktor-faktor alami dan syarat-syarat eksternal yang biasa digunakan untuk menghasilkan sebuah tujuan, melainkan untuk terkabulnya sebuah doa, pendoa harus melakukan perubahan total dalam cara hidupnya, menciptakan keadaan baru pada jiwanya dan merenungkan kembali perbuatan yang telah dilakukan pada masa lalu. Bukankah menganggap doa sebagai sesuatu faktor pelumpuh dengan adanya syarat-syarat semacam ini menandakan ketidaktahuan pengklaimnya atau sebuah perbuatan yang tak berdasar?!