|
Furu'uddin
65. Apakah Rahasia Perubahan Kiblat? Diubahnya arah Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah membuat setiap orang bertanya-tanya. Orang-orang yang mengira bahwa setiap hukum itu harus permanen akan selalu mempertanyakan, “Kalau memang kita diharuskan mengarahkan wajah kita ke arah Ka’bah dalam shalat, mengapa kita tidak diperintahkan sejak awal? Dan jika memang Baitul Maqdis itu lebih dahulu sebagai Kiblat para nabi terdahulu, lalu mengapa diubah?” Musuh-musuh Islam pun mempunyai kesempatan besar untuk menghasut. Mereka berkata, “Pada awalnya memang beliau (Nabi Muhammad saw.) mengarahkan wajahnya ke Kiblat para nabi terdahulu. Kemudian, setelah berhasil memenangkan suku bangsanya, beliau segera mengubah arah itu dengan Kiblat bangsanya.” Mungkin juga mereka akan mengatakan, “Demi menarik perhatian para pengikut agama Yahudi dan Nashrani, pertama-tama beliau menerima Baitul Maqdis sebagai Kiblat. Kemudian, ketika usahanya itu tidak membuahkan hasil, beliau segera menggantinya dengan Ka’bah.” Sudah jelas bahwa provokasi semacam itu yang disebarkan di tengah-tengah masyarakat -di mana cahaya ilmu dan keimanan mereka belum terpatri kuat, sementara sisa-sisa kemusyrikan dan penyembahan berhala masih terlihat- membuat muslimin merasa khawatir dan iman mereka tergoncang. Oleh karena itu, di dalam surat al-Baqarah [2], ayat 143, Al-Qur'an menegaskan bahwa pengubahan kiblat itu betul-betul merupakan ujian besar untuk mengetahui sikap orang-orang yang beriman dan orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya di antara sebab-sebab perubahan arah Kiblat ialah bahwa pada masa itu, Ka’bah adalah tempat penyimpanan patung-patung kaum musyrikin. Oleh karena itu, untuk sementara waktu umat Islam diperintahkan menghadapkan wajah mereka ke arah Baitul Maqdis dalam shalat. Dengan demikian, barisan mereka terpisah dengan barisan kaum musyrikin. Adapun ketika beliau saw. dan muslimin hijrah ke kota Madinah dan pemerintahan Islam telah dibentuk, serta barisan mereka telah nampak jelas berbeda dengan kaum musyrikin, maka tidak perlu lagi melanjutkan tradisi ritual tersebut. Ketika itu, arah Kiblat dikembalikan ke Ka’bah yang merupakan sentral tauhid yang paling lama dan peninggalan para nabi yang paling tua. Sudah pasti, orang-orang yang menganggap Ka’bah itu merupakan tonggak kesukuan tidak merasa tentram menghadapkan wajahnya ke arah Baitul Maqdis ketika shalat. Sebagaimana pula mereka tidak akan pernah merasa tentram ketika Kiblat itu dikembalikan ke arah Ka’bah setelah mereka terbiasa menghadapkan wajahnya ke arah Kiblat yang pertama. Melalui perintah tersebut, keimanan kaum muslim betul-betul diuji sehingga sisa-sisa kemusyrikan yang masih bersarang dalam diri mereka menjadi sirna, hubungan mereka dengan polusi syirik terputus, dan akhirnya dapat menerima perintah Ilahi tersebut dengan penuh ketulusan hati. Sebagaimana telah kami singgung bahwa Allah swt. tidak mempunyai dan tidak membutuhkan tempat. Kiblat hanya sebagai lambang persatuan barisan umat Islam dan demi menghidupkan ruh tauhid. Perubahan arah Kiblat tersebut sama sekali tidak membuat sesuatu menjadi goyah. Dan yang penting adalah kepasrahan dalam menerima perintah Ilahi dan menghancurkan berhala-berhala fanatik, kecongkakan, dan kesombongan.
|