Back To Index

Beranda

 

Imamah

 

52. Sejak Kapan Imâmah Menjadi Isu?

Pasca wafatnya Nabi saw., perbincangan tentang pengganti beliau mengemuka. Sekelompok orang berkeyakinan bahwa Nabi saw. tidak menentukan pengganti selepas beliau, dan urusan ini dilimpahkan di atas pundak umat supaya mereka duduk bersama dan bermusyawarah untuk menentukan sendiri pemimpin mereka; pemimpin yang mengendalikan urusan pemerintahan dan bertindak sebagai wakil rakyat (umat) untuk memerintah atas mereka.

Musyawarah ini tidak pernah terwujud, karena pada suatu kesempatan, hanya satu kelompok kecil sahabat yang memilih seorang khalifah, dan pada kesempatan yang lain, pemilihan khalifah berbentuk penunjukan (intishâbi), serta pada kesempatan ketiga, pemilihan ini hanya diemban oleh enam orang yang keseluruhannya bersifat penunjukan juga (intisâbi).

Para pendukung pemikiran ini disebut Ahli Sunnah.

Kelompok lain berkeyakinan bahwa imam dan pengganti (khalifah) Nabi saw. harus ditentukan oleh Allah swt., lantaran ia mesti seperti Nabi saw.; maksum dari dosa dan kesalahan serta memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga ia dapat mengemban kepemimpinan material dan spiritual, menjaga pondasi agama, menjelaskan hukum-hukum Tuhan kepada umat, menguraikan Al-Qur’an secara detail, dan menjaga keutuhan Islam.

Kelompok ini dinamakan sebagai Imamiyah atau Syi'ah. Dan penamaan berasal dari hadis-hadis Nabi saw. yang masyhur.

Dalam Tafsir Ad-Durr Al-Mantsűr, salah satu buku referensi tafsir standar Ahli Sunnah yang terkenal, tentang penafsiran ayat “Ulâ`ika hum khoirul Bariyyah”, terdapat sebuah hadis dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari. Ia berkata, “Suatu hari kami berada di hadirat Nabi saw. Tiba-tiba Ali datang ke arah kami. Nabi saw. bersabda, ‘Ia dan Syi'ahnya pada Hari Kiamat adalah orang-orang benar.’ Setelah itu, turunlah ayat ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka adalah sebaik-baik makhluk.’”.[1]

Al-Hakim An-Naisyaburi, salah seorang ulama terkenal Ahli Sunnah yang hidup pada abad kelima Hijriah, menukil muatan riwayat yang sama dari Nabi saw. dalam kitabnya yang terkenal, Syawâhid at-Tanzîl dan jumlah riwayat ini melebihi  angka dua puluh. Di antaranya, riwayat Abbas yang berkata, “Ketika turun ayat ‘Innaladzîna Âmanű wa 'amilush-Shôlihât ...’, Nabi saw. bersabda kepada Ali, ‘Maksud dari ayat ini adalah engkau dan Syi'ahmu.’”[2]

Dalam hadis yang lain dari Abu Barzah, ketika Nabi saw. membacakan ayat ini, beliau bersabda, “Mereka adalah engkau dan Syi'ahmu.”[3]

Banyak lagi dari ulama Islam dan ulama Ahli Sunnah, seperti Ibn Hajar dalam Ash-Sawâ’iq Al-Muhriqah-nya dan Muhamamad Asy-Syablanji dalam Nűr Al-Abshâr-nya, juga menyebutkan hadis ini.

Oleh karena itu, dengan kesaksian riwayat-riwayat ini, Nabi saw. telah memilih nama Syi’ah sebagai pengikut jalan Ali dan pendukung beliau. Maka itu, sangat mengherankan sekali jika sebagian orang menggangap nama ini sebagai penanda kesialan dan keburukan. Mereka menganggap huruf syin pada awal kata Syi’ah merupakan hal yang mengingatkan kepada keburukan, kesialan, dan kata-kata buruk serta konotasi lainnya.

Sebenarnya, ungkapan-ungkapan ini bagi seorang peneliti yang memiliki kecenderungan untuk menerima pelita argumentasi logis sangat mengherankan. Karena, untuk setiap huruf dari huruf-huruf abjad Hijaiyah (dari alif sampai ya’) dapat dipilihkan kata-kata baik atau buruk (sebagai ungkapannya).

Secara umum, sejarah kemunculan Syi'ah tidak terjadi pasca wafatnya Rasulullah saw., tetapi bahkan pada masa hidup beliau. Dan kata ini dilekatkan kepada penolong dan pendukung Imam Ali a.s. Seluruh orang mengenal Nabi saw. sebagai Rasulullah. Mereka tahu bahwa beliau tidak berbicara atas dasar hawa dan nafsunya sendiri, wamâ yantiqu ‘anil hawâ in huwa illâ wahyun yűhâ. Dan jika beliau bersabda, “Engkau dan pengikutmu adalah orang-orang yang berjaya dan benar pada Hari Kiamat”, sabda beliau ini merupakan sebuah realitas.[4]

 

 



[1] Ad-Durr al-Mantsűr, jilid 6, hal. 379 dalam penafsiran surat al-Bayyinah [98], ayat 7.

[2] Syawâhid at-Tanzîl, jilid 2, hal. 357.

[3] Idem, hal. 359.

[4] Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 9, hal. 22.