Back To Index

Beranda

 

Konsep Kenabian

 

47. Apakah Filsafat Banyaknya Istri Nabi Saw?

Pernikahan Nabi saw. dengan beberapa orang wanita adalah untuk memecahkan rangkaian persoalan sosial dan politik dalam kehidupan beliau. Karena kita ketahui bahwa tatkala Nabi saw. menyerukan dakwah Islam, beliau hanyalah seorang diri. Hingga beberapa lama, selain beberapa orang yang beriman kepadanya, beliau bangkit melawan segenap kepercayaan sesat yang telah merajalela di lingkungannya. Dan beliau mengumumkan perang (ideologi) kepada semua pihak. Wajarlah kiranya jika seluruh kaum dan kabilah di lingkungan tersebut memobilisasi massa untuk melawan Sang Nabi.

Seluruh sarana yang dapat digunakan untuk mematahkan persekongkolan musuh yang kotor ini, harus diberdayakan. Salah satu strategi dan sarana tersebut adalah menjalin hubungan kekeluargaan dan kekerabatan melalui jalan pernikahan dengan kabilah-kabilah yang beragam. Karena, pernikahan dan hubungan kekerabatan adalah jalinan yang termasuk paling kokoh dan kuat pada masyarakat Arab jahiliyah. Dan mereka berpandangan bahwa menantu kabilah merupakan bagian dari mereka, membelanya adalah wajib, dan meninggalkannya terlantar termasuk perbuatan tercela.

Terdapat indikasi-indikasi banyak di hadapan kita yang menunjukkan bahwa pernikahan Nabi saw. setidak-tidaknya lebih  bernuansa politis.

Dan sebagian pernikahan beliau, seperti pernikahannya dengan Zainab, didasari tujuan untuk mematahkan tradisi jahiliyah sebagaimana tertuang dalam surat Al-Ahzab [33], ayat37. Sebagian lainnya adalah untuk mengurangi jumlah musuh, menjalin persahabatan dan menarik kecintaan orang-orang atau kaum yang fanatik dan keras kepala.

Jelas bahwa seseorang yang berusia dua puluh lima tahun, masa prime time, menikah dengan wanita janda yang berusia empat puluh tahun dan merasa puas diri dengan seorang janda hingga usia tiga puluh lima tahun, kemudian ia melakukan pernikahan dengan berbagai wanita, tentu saja beliau memiliki alasan dan filsafat di balik pernikahan-pernikahan ini.

Sama sekali tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa beliau menikah semata-mata karena motivasi atau dorongan seksual, sebab pernikahan bagi bangsa Arab pada masa itu sangat sederhana dan biasa, dan bahkan terkadang istri pertama yang melakukan lamaran untuk istri kedua bagi suaminya, dan mereka tidak percaya pada pembatasan jumlah istri. Bagi Nabi saw., pernikahan-pernikahan yang dilakukan beliau pada masa mudanya, selain tidak ada kendala sosial, atau tidak dikenakan syarat-syarat berat agar memiliki kekayaan yang banyak, juga tidak dinilai sebagai aib dan cela.

Menariknya, menurut catatan sejarah disebutkan bahwa Nabi saw. hanya sekali menikah dengan seorang wanita perawan, yaitu ‘Aisyah. Selebihnya, istri-istri beliau adalah wanita-wanita janda, yang tentu saja tidak dapat dilihat dari sisi adanya motivasi seksual di balik pernikahan ini.[1]

Bahkan, kita membaca di sebagian catatan sejarah bahwa Nabi saw. menikah dengan beberapa wanita dan tidak melaksanakan acara walimah, dan Nabi saw. tidak pernah bersenggama dengan mereka, bahkan beliau cukup merasa puas dengan lamaran beberapa wanita dan beberapa kabilah.[2] Sebatas itu mereka sudah merasa gembira dan bangga bahwa wanita dari kabilah mereka disebut sebagai istri Nabi saw., dan ini merupakan kehormatan bagi mereka. Dengan demikian, hubungan dan jalinan sosial mereka dengan Sang Nabi semakin kokoh dan solid, serta semakin bertekad dalam membela beliau.

Dari sisi lain, jelas bahwa Nabi saw. bukanlah seorang mandul dan kenyataannya, beliau hanya memiliki beberapa anak sebagai buah hatinya. Sekiranya pernikahan-pernikahan ini disebabkan oleh daya tarik seksual, tentu saja beliau akan memiliki banyak anak dari wanita-wanita yang dinikahinya.

Juga harus diingat bahwa sebagian dari wanita-wanita ini, seperti ‘Aisyah, menjadi istri Nabi saw. pada usia yang sangat belia. Oleh karena itu, setelah sekian tahun berlalu, baru ia dapat menjadi istri Nabi saw. yang sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan dengan putri belia seperti ini memiliki motivasi-motivasi yang lain, dan tujuan utamanya adalah seperti yang telah kami singgung di atas.

Meski musuh-musuh Islam hendak berdalih dengan melecehkan pernikahan-pernikahan Nabi saw., dan membuat sebuah dongeng palsu dari pernikahan-pernikahan tersebut, akan tetapi usia tua Nabi saw. ketika melakukan pernikahan-pernikahan ini dari satu sisi, dan beragamnya usia dan kabilah wanita-wanita ini dari sisi lain, serta berbagai indikasi lainnya sebagaimana telah kami singgung sebelumnya, menjadi realitas yang dapat menerangi dan menepis tuduhan dan konspirasi keji yang dialamatkan kepada Nabi mulia saw. ini.[3]

 

[1] Bihâr al-Anwâr, jilid 22, hal. 191-192.

[2] Idem.

[3] Tafsir Neműneh, jilid 17, hal. 381.