Back To Index

Beranda

 

Konsep Kenabian

 

46. Apakah Nabi Ayyub a.s. Menderita Penyakit yang Menjijikkan?

Wajah suci Nabi besar ini menjadi manifestasi (mazhhar) kesabaran dan ketabahan, sehingga ketabahan Nabi Ayyub a.s. menjadi pepatah di kalangan seluruh umat. Di dalam Al-Qur’an,  terdapat surat Ash-Shaf. Dari permulaan hingga akhir kisah Nabi Ayyub as, Allah Swt mengekspresikan sebaik-baik pujian kepada beliau.

Akan tetapi, sayangnya nasib Nabi besar ini tidak terjaga dari pelecehan orang-orang dungu atau musuh-musuh yang berpengetahuan. Mereka memunculkan khurafat ihwal Nabi Ayyub a.s. sehingga kekudusan dan kesuciannya ternodai. Misal, mereka mengekspresikan bahwa ketika Nabi Ayyub menderita penyakit yang menimpa badannya, tubuhnya sedemikian bau dan busuk sehingga penduduk membuangnya dari kota.

Tanpa syak lagi, riwayat seperti ini adalah karangan belaka, betapapun banyaknya riwayat itu. sebab, risalah para nabi menjawab bahwa masyarakat pada setiap masa dapat berinteraksi dengan mereka setiap dikehendaki. Dan apa yang menjadi sumber kejijikan dan kebencian masyarakat dan terciptanya kesenjangan orang-orang dengan mereka, entah tertimpa penyakit-penyakit yang menjijikan, cacat jasmani, atau kekasaran moral, tidak akan ada pada mereka, karena filsafat risalah bertentangan dengan semua ini.

Al-Qur’an bertutur ihwal Nabi saw., “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu.” (QS.Ali ‘Imran [3]: 159)

Ayat ini merupakan dalil bahwa nabi tidak boleh berlaku demikian sehingga orang-orang di sekitarnya tidak menjauh darinya.[1]

 

 



[1] Tafsir Nemûneh, jilid, 19, hal. 303.