|
Konsep Kenabian
35. Apakah Tujuan
dari Mikraj? Sudah
jelas bagi kita bahwa Mikraj Rasulullah saw. tidaklah bermaksud untuk melihat
Tuhan di atas langit sebagaimana anggapan orang-orang awam. Sayangnya, sebagian
cendekiawan Barat, lantaran ketidaktahuannya atau ingin menggoncang Islam,
menyoroti sedemikian rupa akan perjumpaan dengan Tuhan ini. Di antara mereka,
Georgia dalam buku, Muhammad Payambariy keh az Nou Bayad Shenâkht
berkata, “Dalam perjalanan Mikraj, Muhammad sampai di suatu tempat sehingga ia
dapat mendengar suara pena Tuhan dan memahami bahwa Tuhan sedang sibuk menjaga hisâb
(perhitungan) umat manusia. Akan tetapi, meskipun ia mendengar pena Tuhan, ia
tidak melihat-Nya! Karena tidak seorang pun yang dapat melihat Tuhan meskipun
ia adalah seorang nabi.”[1] Hal ini menunjukkan
bahwa jenis pena adalah pena kayu. Ketika bergerak di atas kertas pena itu
bergerak kasar dan menimbulkan suara. Inilah salah satu contoh dari sekian
khurafat dan takahayul. Sebenarnya,
tujuan Mikraj adalah agar ruh Nabi saw. menyaksikan rahasia keagungan Tuhan di
jagad raya, khususnya menyaksikan alam atas yang merupakan kumpulan tanda-tanda
keagungan-Nya. Selain itu, supaya beliau kembali menemukan pemahaman dan
wawasan baru dalam memberikan petunjuk dan memimpin umat manusia. Tujuan
ini secara jelas tertuang di dalam surat Al-Isra’ [17], ayat 1 dan surat
An-Najm [53], ayat 18. Terdapat
juga riwayat yang menarik mengenai tema ini yang bersumber dari Imam Ash-Shadiq
a.s. dalam menjawab pertanyaan sebab Mikraj Rasul saw. Beliau berkata, “Allah Swt.
sama sekali tidak memiliki ruang, dan tidak berada dalam lintasan waktu. Akan
tetapi, Ia menghendaki para malaikat dan para penghuni langit menghormati Nabi
saw. yang melintas di antara mereka. Dan juga ingin menunjukkan kepada Nabi-Nya
akan keagungan-Nya yang serba menakjubkan, sehingga Nabi saw. menerangkannya
kepada masyarakat setelah kembali.”[2]
|