|
Konsep Kenabian 33. Apakah Hakikat Wahyu yang Serbamisteri itu? Tidak syak lagi, kita tidak dapat menemukan data yang banyak tentang wahyu dan hakikatnya. Lantaran wahyu adalah salah satu jenis pengetahuan di luar jangkauan pengetahuan kita. Di samping itu, wahyu merupakan salah satu bentuk hubungan yang berada di luar hubungan-hubungan yang telah kita ketahui. Ranah wahyu bagi kita adalah sebuah ranah yang asing dan berada di luar pengetahuan kita. Sebenarnya, bagaimana seorang manusia bumi dapat menjalin hubungan dengan Sumber Awal alam semesta? Bagaimana Tuhan Yang Azali dan Abadi serta Nir-batas dari segala dimensi dapat menjalin hubungan dengan makhluk yang serba terbatas dan mumkin al-wujud? Dan pada detik-detik turunnya wahyu, bagaimana Nabi saw. mendapatkan keyakinan bahwa hubungan ini bersumber dari-Nya? Segenap soal yang diuraikan di atas merupakan pertanyaan-pertanyaan yang pelik bagi kita untuk menjawabnya. Dan bersikeras untuk memahaminya adalah sangat tidak beralasan. Satu-satunya pembahasan yang rasional dan dapat diuraikan bagi kita adalah wujudnya atau kemungkinan adanya hubungan seperti ini bersifat misterius. Kita berasumsi bahwa tidak satu pun dalil rasional yang dapat menafikan masalah seperti ini. Akan tetapi, sebaliknya, kita melihat dalam kosmos diri kita sendiri terdapat hubungan-hubungan batin yang tidak dapat kita interpretasikan. Hubungan-hubungan ini menunjukkan bahwa apa yang ada di atas rasa dan hubungan-hubungan kita juga memiliki cerapan dan pandangan-pandangan yang lain. Tidak ada salahnya kita menjelaskan masalah ini dengan menyebutkan perumpamaan. Anggaplah kita hidup di kota orang-orang buta -tentu saja orang-orang buta semenjak lahir- dengan dua mata yang mampu melihat. Segenap penduduk kota bercatur indra (seperti yang kita ketahui bahwa keseluruhan indra lahiriah manusia berjumlah lima) dan hanya kitalah orang yang berpanca indra. Dengan mata, kita melihat banyak kejadian yang terjadi di kota itu dan mewartakan kepada penduduk kota tersebut. Namun, mereka semuanya akan merasa takjub, apakah kelima indra misterius ini memiliki aktifitas yang sedemikian luas dan lapang? Semampu apa pun kita membahas indra penglihatan ini berikut aplikasinya, tidaklah berguna, kecuali kebingungan yang tersisa di benak mereka. Dari satu sisi, mereka tidak dapat mengingkari keberadaan panca indra ini, lantaran mereka mendapatkan efek beragam darinya dan merasakannya. Di sisi lain, mereka tidak dapat mendapatkan hakikat penglihatan tersebut, sebab mereka tidak pernah melihat seumur hidup mereka. Kita tidak berasumsi bahwa wahyu merupakan indra keenam. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa wahyu ini merupakan satu jenis pengetahuan dan hubungan dengan alam gaib dan Dzat Kudus Ilahi. Karena kita tidak memiliki pengetahuan dan hubungan tersebut, kita tidak dapat mengetahui hakikatnya. Betapa pun kita beriman kepada keberadaannya melalui efeknya. Maka sebatas ini, yang dapat kita lihat adalah adanya seorang manusia agung yang datang kepada umat manusia dengan membawa dakwah yang muatannya berada di luar pikiran mereka. Ia mengajak mereka kepada Tuhan dan ajaran-Nya dengan bukti mukjizat dan kekuatan supra-natural yang berada di luar kemampuan umat manusia, sehingga ia dapat mengadakan hubungan dengan dunia gaib. Efeknya tampak, namun hakikatnya laten. Apakah kita telah mampu menyingkap seluruh rahasia jagad ini sehingga ketika kita bisa bersinggungan dengan fenomena wahyu dan sulit memahami hakikatnya, lalu mengingkarinya? Kita bahkan di dunia ini melihat fenomena misterius yang tidak dapat kita interpretasikan. Coba perhatikan burung-burung yang suka eksplorasi, yang dalam perjalanan jauhnya melintasi angkasa dengan jarak delapan belas ribu kilometer dalam setahun, terbang dari kutub utara menuju kutub selatan dan demikian juga sebaliknya. Apakah kehidupan burung-burung yang sarat misteri itu sudah jelas bagi kita? Bagaimana burung-burung ini menentukan arah terbangnya dan mengenal dengan baik jalan lintasnya? Terkadang pada waktu malam gelap gulita atau siang hari, mereka melanjutkan perjalanan panjang. Sementara ketika kita -tanpa alat-alat teknis dan penunjuk jalan- hendak melintasi bahkan satu per seratus jarak perjalanan mereka, segera kita akan kesasar. Hal ini merupakan sesuatu yang belum dapat disingkap oleh ilmu dan sains. Sekelompok ikan yang habitatnya berada di kedalaman laut, biasanya pada saat bertelur mereka kembali ke tempat bertelur aslinya yang barangkali berjarak ribuan kilometer darinya. Dari mana mereka tahu dengan mudah tempatnya bertelur itu? Fenomena-fenomena misterius seperti ini di alam yang kita huni ini sangatlah banyak. Dan segenap fenomena inilah yang mencegah kita untuk mengingkari dan menafikannya. Dan kita teringat penjelasan Ibnu Sina yang berkata, “Apabila Anda mendengar sesuatu yang aneh, janganlah segera Anda ingkari. Berikanlah sedikit kemungkinan sepanjang dalil pasti belum tersedia. Maka hal itu tidak akan menjadi kendala bagi Anda.” Kini lihatlah bagaimana upaya sia-sia kaum materialis dalam mengingkari masalah wahyu?
Logika Para Pengingkar Wahyu Ketika masalah wahyu diuraikan, sebagian kaum materialis dengan tergesa-gesa seraya menyangkal: “Hal ini bertentangan dengan sains.” Dan ketika kita bertanya di manakah letak pertentanganannya dengan sains? Begitu yakin dan arogannya mereka mereka menjawab: “sekedar sesuatu tidak dapat dibuktikan oleh ilmu sains, sudah cukup bagi kami untuk mengingkarinya. Prinsip kami adalah asumsi bahwa segala sesuatu itu terbukti dengan standar empiris!” Terlepas dari masalah ini, dalam menelaah penelitian-penelitian ilmiah tentang jiwa dan raga manusia, kita tidak bersinggungan dengan indra misterius yang dapat menghubungkan kita dengan dunia supranatural. Para nabi itu sejenis kita. Bagaimana dapat diyakini bahwa mereka memiliki pengetahuan dan indra di atas pengetahuandan indra kita?
Isykalan Dawam dan Jawaban Dawam Keterlibatan kaum materialis tidak terbatas pada masalah ini saja. Dalam segenap urusan yang berkenaan dengan dunia metafisika, mereka bersikap seperti ini. Dalam mengoreksi kesalahan mereka, perlu kita sampaikan: “Janganlah Anda lupakan ruang lingkup ilmu. (Tentu saja bila maksud mereka adalah ilmu empirik). Parameter dan alat-alat yang digunakan untuk penelitian ilmiah, laboratorium, teleskop, mikroskop, ruang anatomi, semuanya bekerja dalam keterbatasan ini. Ilmu-ilmu dengan alat-alat dan parameter-parameter ini secara mutlak tidak dapat memberikan komentar di luar penelitian ilmu empirik; tidak menafikannya juga tidak memastikannya. Mengapa? Jawabannya juga jelas, bahwa parameter dan alat ilmu-ilmu itu memiliki kemampuan dan ruang lingkup aplikasi yang terbatas. Instrumen setiap ilmu-ilmu alam juga khusus dalam ruang lingkupnya sendiri. Lebih dari itu, ia tidak memiliki kemampuan dan aplikasi. Sebagai contoh, apabila kita tidak melihat mikroba sel yang kita letakkan di balik teleskop raksasa astronomi, kita tidak dapat mengingkari keberadaan mikroba tersebut. Demikian juga, kita tidak dapat mempersoalkan apabila kita tidak dapat melihat planet Pluto dengan menggunakan mikroskop kecil. Instrumen penelitian pada setiap subjek sesuai dengan disiplin ilmunya sendiri. Dan instrumen untuk mengenal dunia metafisik tidak lain adalah menggunakan penalaran akal yang membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dunia tersebut. Mereka yang mengeluarkan ilmu dari ruang lingkupnya, sejatinya bukanlah seorang ilmuwan, juga bukan seorang filsuf. Melainkan seorang pendakwa yang berbuat kekeliruan dan menyimpang dari jalannya. Sebatas ini, kita melihat bahwa orang-orang besar datang dan mengetengahkan kepada kita masalah yang berada di luar kekuatan manusia dan menjalin hubungan dengan dunia di luar dunia materi. Namun, bagaimana hubungan misterius ini? Tidak jelas bagi kita. Yang terpenting adalah bahwa kita mengetahui adanya hubungan demikian.[]
|