Keadilan Ilahi
24. Apakah Perbedaan Natural Manusia Sesuai dengan Prinsip Keadilan?
Pada ayat 32, surat An-Nisa’ [4] kita membaca, “Janganlah Kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.”
Dengan memperhatikan ayat suci ini, banyak di antara kita bertanya, mengapa sebagian orang memiliki bakat lebih dan bakat sebagian lainnya kurang, sebagaian rupawan dan sebagian lagi tidak demikian. Ada sebagian orang yang kuat tubuhnya,ada pula yang tubuhnya biasa-biasa saja. Apakah perbedaan natural ini sejalan dengan prinsip keadilan?
Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan dua poin di bawah ini.
1. Bagian pertama dari perbedaan antara raga dan ruh manusia merupakan akibat dari perbedaan strata dan kezaliman kehidupan sosial, atau sikap menganggap remeh setiap orang, dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia penciptaan. Umpamanya, kebanyakan putra-putri kaum hartawan dibandingkan dengan putra-putri kaum miskin, baik dari sudut pandang jasmani, lebih indah dan lebih kuat, juga dari sisi potensi dan talenta lebih besar. Semua ini dikarenakan mereka mendapatkan makanan dan kesehatan yang memadai, sementara putra-putri orang miskin berada dalam keserbakurangan. Atau sebagian orang karena sikap malas dan acuh tak acuhnya, kekuatan jasmani dan ruhnya sirna begitu saja. Perbedaan-perbedaan ini harus diyakini sebagai “perbedaan-perbedaan rekaan (diciptakan) dan tanpa dalil”. Dengan hilangnya sistem strata yang korup, pengadaan keadilan sosial juga akan sirna, dan Islam dan Al-Qur’an tidak menyetujui perbedaan-perbedaan semacam ini.
2. Bagian lain dari perbedaan itu bersifat natural dan suatu kelaziman penciptaan manusia. Maksudnya, sekiranya sebuah masyarakat bersinggungan dengan keadilan sosial secara sempurna, setiap anggotanya ibarat sebuah pabrik; produknya tidak akan berbentuk dan bercorak sama. Tentu saja masing-masing akan memiliki kperbedaan dan keunikan yang khas. Namun, harus diketahui bahwa galibnya, anugerah-anugerah Ilahi, potensi jasmani dan ruhani manusia sedemikian sudah dibagikan kepada mereka sehingga masing-masing memiliki bagian-bagian tertentu dari potensi ruh dan jasmani tersebut. Maksudnya, sangat jarang dijumpai anugerah-anugerah Ilahi ini terdapat pada satu tempat atau satu orang. Sebagian memiliki kekuatan badan yang kuat, sebagian memiliki potensi dan talenta matematika yang baik, sebagian memiliki bakat bersyair, dan sebagian lainnya menyukai bidang perniagaan, sebagian peduli pada bidang agrikultur. Alhasil, setiap orang memiliki potensi dan talenta yang khas. Yang penting adalah masyarakat atau individu harus menemukan potensi dan talentanya tersebut serta membinanya dalam lingkungan yang sehat, sehingga setiap orang dapat menunjukkan dan mengeksplorasi kekuatannya.
Subjek ini juga harus diingat bahwa sebuah masyarakat ibarat sebuah raga manusia yang memerlukan tekstur-tekstur, urat dan sel-sel yang beraneka ragam. Maksudnya, sekiranya satu badan, seluruh sel-sel subtil dibuat seperti sel-sel mata dan otak, maka keberadaannya tidak akan berlangsung lama. Atau apabila seluruh sel-sel itu keras dan tidak fleksibel sebagaimana sel-sel tulang, dia tidak dapat melakukan pekerjaan yang memikul tanggungjawab yang beragam. Akan tetapi, seluruh sel-sel yang ada pada diri manusia harus dibentuk dari sel-sel yang beragam. Setiap sel memiliki tugas khusus; ada yang memiliki tugas berpikir, yang lainnya memiliki tugas melihat, tugas mendengarkan, tugas berkata-kata.
Demikian juga untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang sempurna diperlukan potensi-potensi, talenta-talenta dan struktur raga dan pikiran yang beragam. Namun, hal ini tidak berarti bahwa sebagian anggota masyarakat harus menjalani hidupnya di bawah garis kemiskinan, atau pelayanan mereka tidak dianggap khidmat yang besar atau malah dihina. Sebagaimana sel-sel yang ada pada tubuh dengan perbedaan-perbedaan yang dimilikinya, semuanya mendapatkan manfaat dari makanan dan udara serta kebutuhan-kebutuhan lainnya sesuai dengan kapasitasnya.
Dengan kata lain, perbedaan struktur ruh dan jasmani pada bagian-bagian yang bersifat natural (bukan karena kekuatan paksa) menuntut kemahabijaksanaan (hikmah) Sang Pencipta, dan keadilan Ilahi tidak dapat dipisahkan dari kemahabijaksanaan Ilahi tersebut. Seperti contoh, sekiranya seluruh sel-sel badan manusia diciptakan dalam satu bentuk, hal itu tidak sesuai dengan kemahabijaksanaan Ilahi, begitu pula keadilan -yang bermakna menempatkan segala sesuatu pada tempat yang selayaknya- tidak akan pernah terwujud. Demikian juga apabila suatu hari, seluruh masyarakat berpikiran yang sama dan memiliki potensi yang sama, pada hari itu juga kondisi mereka akan mengalami kekacauan.[1]s
[1].Tafsir-e Nemuneh, jilid 3, hal. 365.