Back To Index

Beranda

 

Furu'uddin

 

100. Mengapa Sebagian Orang Zalim dan Pendosa malah Hidup dalam Nikmat dan tidak Mendapatkan Hukuman?

Dari ayat-ayat Al-Qur’an dapat diketahui bahwa Allah swt. akan senantiasa menyadarkan orang-orang yang melakukan dosa —dengan syarat belum terlalu terjerumus ke dalam lautan dosa— dengan lonceng peringatannya, reaksi-reaksi dari perbuatan-perbuatan mereka, atau—terkadang—melalui hukuman-hukuman yang sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan untuk kemudian mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Mereka ini adalah orang-orang yang masih mempunyai kelayakan untuk mendapatkan hidayah dan pertolongan Allah swt. dan masih berada di dalam naungan kasih sayang Sang Kekasih. Karena pada hakikatnya, hukuman dan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi merupakan sebuah nikmat.

Al-Qur’an berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, karena Allah hendak merasakan kepada mereka sebagian dari [akibat] perbuatan mereka, supaya mereka kembali [ke jalan yang benar].” (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Akan tetapi, mereka yang telah tenggelam di dalam lautan maksiat, dosa, dan pembangkangan  hingga mencapai titik maksimal, maka Allah swt. akan meninggalkan mereka dalam keadaan mereka sendiri. Artinya, Dia memberikan kesempatan  kepada mereka supaya memikul dosa yang amat berat sehingga mereka berhak untuk mendapatkan hukuman dalam batas yang maksimal. Mereka ini adalah orang-orang yang merusak dan menghancurkan jembatan-jembatan di belakang mereka sendiri dan tidak menyediakan jalan bagi diri mereka untuk kembali. Dan orang-orang semacam ini betul-betul telah menyobek tirai rasa malu dan penyesalan dalam diri mereka sendiri, serta betul-betul telah kehilangan kelayakan untuk mendapatkan hidayah Ilahi.

Al-Qur’an dalam sebuah ayatnya menekankan, “Dan janganlah sekali-sekali orang-orang kafir menyangka bahwa penangguhan yang Kami berikan kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi penangguhan kepada mereka hanyalah supaya dosa mereka semakin bertambah, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali ‘Imran [3], 178)

Dalam pidato yang telah disampaikan oleh Srikandi Islam, Sayidah Zainab Al-Kubra ketika berhadapan dengan penguasa tiran Syam, beliau berargumen dengan menggunakan ayat ini di hadapan Yazid, sosok pembangkang yang merupakan jelmaan jelas dari pendosa yang tidak lagi memiliki jalan untuk kembali. Dalam pidato ini ia menegaskan, “Kamu hari ini bergembira ria dan menyangka bahwa karena kamu telah membuat sempitnya ruang gerak kami, telah menutup batas langit bagi kami, telah membuat kami sebagaimana tawanan yang bisa kamu bawa dari tempat ini ke tempat lain, maka hal ini merupakan tanda-tanda kekuatanmu, atau kamu menyangka bahwa di hadapan Allah ‘Azza Wajalla kamu mempunyai kekuatan lalu kami menjadi tidak mempunyai kedudukan sedikitpun di hadapan Nya? Sungguh, kamu berada dalam kesalahan yang amat besar, karena kesempatan dan kebebasan yang diberikan oleh Allah kepadamu ini adalah supaya punggungmu menjadi begitu berat oleh beban dosa-dosamu dan azab yang sangat mengerikan dan menyakitkan akan menunggumu ….”

 

Jawaban Terhadap Sebuah Pertanyaan.

Ayat yang telah disebutkan di atas juga akan memberikan jawaban atas pertanyaan yang muncul di dalam persepsi banyak orang yang mananyakan mengapa sebagian para pemaksiat dan pendosa yang sudah tercemari dengan semua perbuatan keji ini malah tenggelam dalam kenikmatan yang berlimpah dan tidak menerima hukuman?

Al-Qur’an mengatakan bahwa mereka ini adalah orang-orang yang tidak bisa lagi diperbaiki di mana sesuai dengan sunah penciptaan dan konsep kebebasan memilih, mereka telah dibiarkan dalam keadaan mereka sendiri sehingga mereka akan sampai pada tahap kehancuran dan mendapatkan hukuman yang maksimal.

Lebih dari itu, dari sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an bisa diketahui bahwa Allah swt. terkadang akan memberikan kenikmatan dan kesenangan yang amat banyak kepada orang-orang semacam ini, dan ketika mereka telah teggelam di dalam kenikmatan, kelezatan, kemenangan, dan kebanggaan, secara tiba-tiba Dia akan mengambil semuanya dari tangan mereka sehingga mereka menikmati titik drastis dari siksaan kehidupan di dunia ini. Karena bagi mereka, terpisah dengan dunia yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan merupakan suatu hal yang sangat menyiksa.

Kita membaca dalam salah satu ayat, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah Kami berikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah Kami berikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Maka, ketika itu mereka akan terdiam berputus asa.” (QS. Al-An‘am [6]: 44)

Pada hakikatnya, kondisi orang-orang semacam ini tak ubahnya seperti orang-orang yang memanjat sebuah pohon. Semakin ia memanjat ke atas, maka akan semakin girang dan senang hingga akhirnya ketika mencapai pada pucuk pohon, tiba-tiba sebuah angin besar menghembus ke arah dirinya dan dalam seketika telah menghempaskan dirinya ke bawah sehingga angin itu menyebabkan seluruh tulang-belulang tubuhnya patah.